Tuesday, July 16, 2013

Diary Ramadhan (6) : Do it Now!



“Jangan tunda amalan, setiap waktu punya hak kesibukannya masing-masing, kalau ditunda malah tidak terlaksana.” Sms taujih Aa Gym pagi ini rasanya seperti ditujukan untukku seorang. Jleb! Itulah yang terjadi padaku dalam 6 hari Ramadhan ini. Penundaan. Tidak fokus. Keteteran.



Saat bekerja pagi yang kepikiran,”Gimana ini, target tilawah belum selesai, tapi merasa bersalah juga kalau belum selesaikan kerjaan yang ada.” Saat waktunya tilawah bada magrib,”Duh, kerjaan yang dibawa pulang ke rumah perlu selesai dalam waktu dekat.” Saat ingin melembur dan bergadang,”Ngantuuuuk, ga kuat, besok pagi deh, janji.” Pagi datang,”Ngantuk lagiii, nanti pas di speed boat.” Saat di speed boat,”Gelombang besar, susah baca, nanti bisa pusing” Huaaaaa.....

Bukan penyesalah kalau di awal. Penyesalan sungguh tak berguna tanpa diiringi perbaikan. Tetap berakhir dengan penyesalan atas target yang tak tercapai. Namun penyesalan atas itu dan berandai-andai juga merupakan pintu masuknya syaitan. 

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

Akhirnya mencoba mengumpulkan semangat dari teman. Menoleh kanan kiri, alias tanya dari grup satu ke grup lain,”Sudah juz berapa?” demi mem-boost semangat bahwa,”Aku Bisa.!” Every second in Ramadhan is precioust, really. Sekali lagi, jangan tunda amalan, tiap waktu punya hak masing-masing.

Fokus. Saat kerja, fokus selesaikan kewajiban kerja. Saat dirumah, jangan membawa pe er kerjaan yang tidak selesai. Saat tilawah, jangan gampang terdistraksi bunyi bbm, wa, dan line yang menggiurkan untuk dibuka. Saat tertinggal jauh dari target, tetap semangat karena masih ada waktu Ramadhan yang tersisa. Bismillah.. Dan bila muncul beribu alasan dari hati...

“Malu baca di depan umum..”
Ingat perkataan Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedang ikhlas, jika Allah Ta’ala menyelamatkanmu dari keduanya.” Maknanya adalah barangsiapa yang telah bertekad melakukan suatu amalan, kemudian ia meninggalkan amalan tersebut karena khawatir dilihat orang, maka ia telah melakukan riya’, sebab ia meninggalkan amalan karena manusia. Adapun jika ia meninggalkan shalat sunnah di keramaian untuk kemudian mengerjakannya saat tidak dilihat orang, maka yang seperti ini disunnahkan. Kecuali shalat wajib, atau zakat wajib, atau ia seorang ulama yang menjadi panutan, maka lebih afdhal dikerjakan secara terang-terangan

Malu enggak, tapi “Capeek, butuh istirahat.”
Dan istirahatnya seorang muslim adalah perpindahannya dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (QS. 94 :7)  Dan dunia memang tempat berlelah-lelah, karena seperti perkataan Imam Ahmad bin Hambal, “Istirahatnya kaum muslimin adalah saat kaki kanannya menginjak surga”

Sebuah tulisan di sahabatalaqsha.com yang juga menyuntikkan ghirah. “Merindukan malam-malam kita di Masjid Al Aqsha merdeka. Terimalah yaa Rabbanaa, jihad Ramadhan kita semua.” Go! Sekarang saatnya.

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright (c) 2010 dellasgarden. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.