Tuesday, February 17, 2015

Vit K yang 'Mahal'



Pagi tadi aku langsung disambut ibu dengan bayinya yang baru berusia 2 hari. Bayi laki-laki,kecil sekali, 1900 gram, sekilas dengan turgor yang menurun. Ibunya mengeluhkan, tali pusat bayinya berdarah. Sedikit bau tidak enak tercium, dan benar, ada sedikit darah, serta garam yang dibubuhkan di atasnya. Usut punya usut, persalinan bayi tersebut ditolong oleh bidan tak bersertifikat, alias dukun bayi. Tak ada injeksi Vit K, terlebih imunisasi Hepatitis B. 

Yang dapat kami lakukan di klinik itu adalah perawatan tali pusat sederhana, kemudian memberi rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan selanjutnya : injeksi Vit K, imunisasi Hep B, dan lainnya yang diperlukan. Edukasi keluarga pun aku lakukan. Fasilitas ‘terdekat’ adalah RSU kabupaten, yang ternyata harus ditempuh dengan speedboat 20 menit, ditambah perjalanan darat sekitar 30 menit. Biaya speedboat normalnya 20rb per orang, namun bila hanya 3 orang yang akan naik, berlaku harga charter 100rb untuk sekali perjalanan. Sederhananya, untuk biaya transportasi pulang pergi demi mendapatkan inj Vit K dibutuhkan biaya 400rb. >_< 

Tidak tega aku merujuknya, namun tambah tidak tega untuk tetap membiarkan kondisinya seperti itu. Vit K oh Vit K, sederhana sekali bila terdapat fasilitas itu di Puskesmas namun itu belum memungkinkan. Untuk ke depannya, sepertinya aku perlu berkunjung ke fasilitas kesehatan terdekat, untuk tahu bagaimana penanganan kasus seperti itu di masa sebelumnya. 

Edukasi ke ibu dan keluarga mengenai persalinan yang sebaiknya ditolong tenaga kesehatan (bidan) perlu digalakkan. Penanganan pada bayi berat lahir rendah, serta perawatan tali pusat yang baik juga diperlukan. Edukasi, edukasi, tuntaskan masalah Vit K yang ‘Mahal’.

Count Ur Blessing



7 Rajab

Rasanya susaaaaah sekali untuk berhenti mengeluh. Sepertinya adaa saja yang menjadikan alasan untuk berkeluh. Walaupun bibir ini tak berucap, namun gelagat pasti terlihat bila hati sudah merasa capek. Badan lemas tak bertenaga, bibir tak mengulum senyum, muka tertekuk tanpa semangat. Terjadi beberapa hari ini setiap selesai jaga. Jadwal padat lah, dua minggu non stop jaga, rekening seakan air mengalir. Astagfirullah... Padahal di propict bb sudah ku ganti dengan gambar bertuliskan,”Count your blessing, not your problems.” 

***
Dua hari lalu saat istirahat siang aku bertemu pak M, 60 tahun, dengan keluhan pusing melayang, tensi darah beliau tinggi. Setelah aku beri obat, ia mengaku sudah lebih baik dan mengotot bekerja, padahal sudah kutawarkan surat istirahat. “Beliau pekerja lapangan yang paling rajin”,begitu testimoni perawatku. Kata perawatku yang lain,”Orang tua sepuh seperti itu, masih mau bekerja keras. Seharusnya dengan usia dan kondisi badan seperti itu sudah selayaknya ia bersantai di rumah, bermain dengan cucu. Anaknya lah yang berganti berbakti menghidupinya.”

Satu hari tepat setelah gajian di perusahan kayu dimana aku bekerja di kliniknya, bapak itu membawa anaknya untuk berobat ke Ibnu Sina. Lagi-lagi bertemu denganku. Ia memakai kartu umum, bukan BPJS. Lalu kutanya,”Lho bapak kan punya BPJS, dipakai saja kartunya. Kalau butuh pemeriksaan laboratorium darah lengkap, ditanggung kok.” “Enggak dok, pakai umum saja.”,sahut beliau dengan tetap tersenyum sopan. Apakah ia mengira ada perbedaan antara layanan umum dengan BPJS ya? Huss, hilangkan prasangka itu.

Anaknya, perempuan usia 16 tahun sudah beberapa kali sebelumnya datang ke klinik perusahaan. Sejak 1 minggu yang lalu (kalau tidak salah) ia mengeluh nyeri ulu hati, perut terasa kembung, mual, mau muntah. Tidak ada panas, tidak ada keluhan lain, telah kuberikan obat untuk maag, namun perbaikan tidak signifikan. Akhirnya aku edukasi untuk pemeriksaan lab saat di ibnu sina. Dari laborat didapatkan leukositopeni, trombositopeni, leukosituria, hematuria, dan penanda widal positif. Cukup mengherankan, mengingat tak ada keluhan panas yang signifikan, namun ternyata inilah penyebab ia lemas. Aku sarankan untuk dirawat. Namun ia kebingungan,“Dok, bisakah rawat jalan? Siapa yang jaga kalau dia rawat inap di Balikpapan? Saya kerja shift, ibunya harus di jenebora rawat adiknya yang menderita DM type I.” Miris memang, ternyata dalam membuat keputusan memang harus holistik, tidak hanya memikirkan penyakit, tapi ‘faktor lain’ pun tak luput dari pertimbangan. Setelah diskusi, akhirnya ia sepakat untuk rawat inap.
Terlalu panjangkah aku bercerita?
***

Di saat yang lain harus melawan usia untuk terus bekerja, dengan imbalan yang mungkin tidak cukup untuk kebutuhannya sebulan. Di saat yang lain harus mengeluarkan biaya karna Allah coba dengan penyakit. Aku disini senantiasa merasakan nikmatnya, dapat bekerja, sehat, keluarga lengkap, dan masih tetap mengeluh? Tidak! Tidak boleh lagi. Ucapan dan wajahku memang masih menunjukkan lelah, namun tangan yang menulis ini semoga menjadi saksi bahwa aku kembali bersemangat dan bersyukur!

Barangsiapa yang memasuki pagi dalam keadaan : aman pada dirinya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya. (HR Tirmidzi)

Jaga dan Istiqamah Book Fair



Ahad, 4 Rajab 1435H/ 4 Mei 2014

Karena tidak ada waktu kedua, dan tak ada pengalaman yang tak berharga.
06.00 Ahad pagi diawali dengan bangun terlambat dan terburu-buru berangkat jaga. Alhamdulillah, tidak telat. Memang, beberapa hari terakhir dan seminggu kedepan, jadwal jaga sedang menumpuk, ritme kegiatanku hanya seputar jaga-tidur-jaga-tidur. Pelajaran awal, jangan tidur kemaleman yang berakibat bangun kesiangan.

Momen unik saat jaga. Pasien NA, 41 tahun, kembali datang kepadaku, ditemani oleh ibunya. Ibunya bilang, si ‘anak’ tidak mau makan selama 2 bulan, susah sekali disuruh makan. “Dokter bilang ya ke NA biar mau makan”,pinta ibunya. Mungkin kalian bingung, wanita usia 41 tahun berobat kok masih diantar ibunya. Yah, tebakanmu tepat, ia menderita keterbelakangan mental. “Ini dok, dia ga mau makan, padahal besok Senin mau umroh. Ini saya ajak umroh, semoga ada hikmahnya. Dari kecil dulu, NA sakit-sakitan saya yang urus, sampai usia 41 tahun pun, saya yang urus.” Subhanallah, pastilah si ibu banyak pahalanya, sabar mengurus anak, sampai Allah pun bersedia mengundangnya lebih cepat untuk ke Baitullah. Tak lupa aku berceletuk,”Ibu, doain kita-kita biar cepat menyusul kesana ya.”
***

16.00. Pulang jaga, akhirnya aku dapat menemui kembali sahabat  untuk mengkaji ilmu,--setelah lama absen, hehehe. Sore hari yang berkah dengan turunnya hujan, aku mendapat Ilmu baru lagi : tentang “Sepuluh amalan baik di pagi hari” yaitu : bangun lebih pagi, munajat dalam keheningan malam, istighfar di waktu sahur, tegakkan sunnah dua rakaat sebelum subuhm pancinglah harimu dengan sedekah pagi, sholat subuh berjamaah, dzikir dan wirid di pagi hari, siramilah jiwa dengan bacaan al-Quran, berbuat baik di pagi hari dan sujudlah di waktu dhuha.
***

19.00 Bada Magrib, aku melipir ke Istiqomah Book Fair di hari terakhir dan jam-jam terakhir, berharap ada diskon lebih. Akhirnya lirikanku jatuh ke sebuah buku dengan kata “Terlarang”. Judul lengkapnya adalah Ma’alim fi ath-Tha’ariq, karya Sayyid Quthb. Aku baru berhasil membaca bab awal,’Telunjuk yang Bersyahadat’—sebuah kesaksian polisi yang ikut dalam proses eksekusi Sayyid Quthb. Di detik terakhir kematiannya, Sayyid Quthb ditawari oleh perwira tinggi untuk membatalkan eksekusi dengan satu perbuatan,”Tulislah Saudaraku satu kalimat saja, Aku bersalah dan aku minta maaf...” Ia menatap ke perwira itu dan tersenyum, lalu berkata penuh wibawa,”Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan akhirat yang abadi.” Kata-kata beliau yang terkenal “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rezim thawaghit.”

Lalu, polisi yang menyaksikan kejadian itu pun detik itu berjanji untuk bertobat dan senantiasa takut kepada Allah. Benarlah bahwa buku ini terlarang, karena dapat membuat seorang muslim kembali ke jalannya yang lurus. Cover yang jenius. Ketika ada kata ‘larangan’, justru itulah yang membuat pembaca lebih penasaran dan ‘melanggar’
***

21.00 Akhir malamku, dikejutkan dengan berita di TV one, “RS tolak pasien.” Fiuh, kejadian apa lagi ini. Seorang bayi mengalami panas tinggi dan dirawat inap di RS di Jakarta, direkomendasikan Sp.A untuk masuk ICU saat siang harinya. Sebelum masuk ICU, keluarga perlu mengurus administrasi dan membayar uang jaminan sejumlah 5 juta. Saat si bapak mengurus administrasi tersebut, bayi mengalami kejang dan diklaim oleh ibunya bahwa tidak ada tindakan darurat yang dilakukan oleh tenaga medis disana. Sampai akhirnya bayi tersebut meninggal, dan keluarga menuntut ke RS.

Lalu diadakan diskusi antara orang tua alm bayi, wamenkes, dan anggota DPR. Beberapa kutipan tokoh yang bisa aku tangkap. Wamenkes,”Rumah Sakit harus melayani keadaan darurat, tanpa meminta uang jaminan di awal. Bila tidak, maka akan dikenakan sanksi bla bla bla. Ibu dan Bapak bila menuntut ini dapat melapor ke MKDKI.” Anggota DPR,”Selama ini, yang saya tahu, bila kasus seperti ini dilaporkan ke MKDKI akan ada ‘silence konspiration’, kasus tidak akan terungkap karena yang mengadili adalah kaum dokter, dan yang diadili pun rumah sakit yang isinya dokter juga. Kasus seperti ini juga saya lihat di banyak film.” Orang tua alm bayi,”Saya tidak tahu kalau ada peraturan seperti itu (RS tidak boleh menarik uang jaminan). Rumah sakit harusnya tidak seperti itu. Jangan menganggap orang kecil tidak dapat membayar. Kami sebagai orang tua pasti sanggup membayar.”

Komentarku? 1. Mengapa tidak ada humas dari RS terkait yang ada di diskusi tersebut ya, sehingga laporan dapat dikonfirmasi dua arah. 2. Bila kejadian belum bisa dikonfirmasi, benarkah seperti itu kejadiannya, bagaimana saya dapat berkomentar lebih jauh? 

Pertanyaan yang terlintas di otakku :
1.Benarkah ada peraturan terkait administrasi dan uang jaminan? Sudahkah pemerintah mensosialisasikan ke Rumah Sakit? Bila sudah, apa solusi pemerintah untuk menutupi biaya operasional RS bila ternyata keluarga tidak mampu membayar? Bila BPJS jawabannya, Benarkah BPJS menanggung semua biaya di ICU dengan sewajarnya? Apa ada ‘limit tertentu’ yang tidak menyisakan pilihan lain kecuali RS harus menghemat ketat biaya, atau rela menuju kebangkrutan?

2. MKDKI melakukan silence conspiration? Bukankah ada SH disana? Logikanya : yang bisa menentukan pemain badminton menang adalah wasit badminton, bukan wasit sepak bola. Kenapa? Karena wasit badminton lah yang mengerti aturan, bila wasit sepak bola disuruh memimpin pertandingan badminton, bisa kacau hasil game-nya. Begitu juga kasus ini, mengapa MKDKI yang mengadili , karena yang berhak menentukan itu salah dan benar adalah orang yang mengerti ilmu yang terkait.

3. Orang tua dan masyarakat memang perlu mendapat penjelasan tentang setiap tindakan di RS, agar tersampaikan informasi yang diinginkan. Walaupun sebenarnya, dalam kondisi tenaga medis melakukan penyelamatan darurat, inform consent memang dapat tidak dilakukan. Dan pastinya, saat-saat genting seperti itu, keluarga pun tidak dalam kondisi tenang yang bisa menerima ‘berita buruk’ yang terjadi. Apa kejadian banyaknya komplain ini menandakan sudah tidak ada lagi kondisi ‘trust’ antara pasien dan penolong? Atau kejadian ini muncul karena sistem ‘administrasi’ yang belum ada solusinya?
***

22.00 Waktu tidur. Siap istirahat untuk kembali bekerja 12 jam esok hari.

Monday, February 16, 2015

Amox-n Drop dan Pipetnya



6 Rajab 1435H/6 Mei 2014

Baru saja beberapa hari lalu aku diberitahu tentang ini. Eh, detik ini ternyata aku melihat sendiri kejadian itu. Laki-laki muda, perawakan kurus, berkacamata, gelang manik-manik, datang ke apotek dan langsung bertanya,”Ada amoxan syr? Yang untuk bayi.” 

“Oh, amoxan drop? Ada ga ya? Sepertinya habis mas.”jawab mba apotekernya.
Lalu mba asisten apoteker berceletuk,”Ada mba, kemarin kan mba habis pesan banyak.”. Akhirnya mba apoteker ke belakang untuk mengecek persediaan. 

“Ada pipetnya kan?”, mas itu memastikan.
Akhirnya transaksi pun terjadi. Amoxan drop lengkap dengan pipet kaca, tiga puluh ribu, lunas. Selepas mas itu pergi, langsung kita kusak-kusuk bergosip. “Haduuh mba, modus itu, pipetnya mau dibuat ‘ngobat’ aka nyabu. Makanya aku tadi pura-pura bilang ga ada.”, sahut mba apoteker. “Ga apa mba, terlanjur, toh itu pemasukan buat kita kan, ada yang beli obat.”, mba asisten sambil senyam-senyum membela diri. 

Aku tertawa melihat kejadian tadi, tertawa pahit. Di depan ku muncul kejadian itu, laki muda yang berburu amoxan drop demi mendapat pipet kaca yang kemungkinan besar dipakainya untuk mengisap sabu. Dan ternyata pipet itu dapat ia peroleh dengan mudahnya di hampir semua apotek.
“Ah, jangan berburuk sangka.”,mungkin kamu akan menjawab seperti itu. Bagaimana tidak? Seorang ayah yang memang memiliki anak tak mungkin bertanya seperti itu, pertanyaan yang akan ia ajukan biasanya,”Anak saya panas, usianya sekian, ada obatnya mba?” Sedang mas ini bertanya dari awal,”Ada amoxan? Pipetnya ada ga?” 

Kesalahan ada pada siapa? Pada orang tersebut yang terduga memakai obat? Apa pada mudahnya apotek menjual obat ataupun antibiotik tanpa resep? Atau padaku yang membiarkan kejadian itu terjadi di depan mata ku tanpa bisa berbuat apa-apa? “Memang harus berbuat apa?” Tiba-tiba dengan heroik menolak pembelian mas itu, atau mengusilinya dengan menanyakan tentang ‘anak sakitnya yang butuh amox’ agar ia sedikit bingung? Akhirnya yang bisa kuperbuat adalah menuliskannya di blog ini, dan mencoba belajar kembali tentang ‘obat-obatan terlarang’ untuk mengetahui ilmunya lebih baik, dan berharap semoga aku dapat berbuat lebih. Agar tak terjadi seperti yang di ucapkan M.Natsir,”Kejahatan akan menang jika para pendukung kebenaran dan pengusung yang haq-nya hanya berdiam diri.”

Comfort Always



5 Rajab 1435H

Jadwal panjang harus ku hadapi hari ini, jaga di Jenebora dari jam 9 pagi sampai 16 sore dengan perjalanan pulang pergi memakai speedboat. Dilanjut menggantikan dokter jaga di Sepinggan sampai jam 9 malam. Kalau dinas lanjut seperti ini, aku membawa baju ganti, dan mandi sore di tempat kerja, seperti merasakan jaman DM kembali, hehe. Capek kah? Awalnya tidak, habis mandi jelas badan terasa segar, pasien yang datang pun tidak terlalu banyak. Keadaan aman terkendali. 

Bada Magrib menjelang isya, barulah muncul perasaan,”Kok ga berhenti-berhenti ya? Perasaan tidak ada suara ramai dari ruang tunggu, tapi antrian tak kunjung selesai.” Waktu praktek tinggal 45 menit lagi, antrian masih diatas 10 nomor, speed memeriksa pun ku percepat. Percepat baca anamnesa, konsentrasi pemeriksaan, dan edukasi cukup singkat saja. Alhamdulillah pukul 21.15 selesai sudah. 

Saat berjalan keluar, aku tengok bapak yang membawa anaknya berobat barusan, naik motor berempat : si bapak, istrinya, dua anak yang tadi berobat, batuk dan pilek keluhannya. Ia termasuk salah satu yang menggunakan jasa BPJS. Kenapa aku bisa tahu? Karena memang rata-rata pasien di klinik tersebut adalah peserta BPJS. Embusan rasa haru muncul saat melihat keluarga itu. Entah berapa kilo mereka menempuh jarak, berkendara motor di malam hari berbekal selembar jaket, datang berobat demi anaknya. Dan akhirnya mendapat obat minimalis standar formularium BPJS. Andai mereka tahu harga obat standar, andai mereka tahu berapa harga pelayanan yang ditetapkan untuk tenaga medis yang melayani. Dan andai-andai yang lain. Sedih karena kesehatan di negara ini ‘dihargai’ dengan tidak wajar—belum wajar,setidaknya untuk saat ini (pastinya ada perbaikan ke depan, semoga)

 Terlintas sedikit perasaan bersalah, bila melayani mereka dengan seadanya. Tidak masalah dengan obat yang mungkin tidak mahal, asal pelayanan dan edukasi dari tenaga medis yang baik, aku harap mereka puas. Tidak perlu mereka tahu tentang harga. Yang mereka tahu cukup ini, saat mereka sakit dan butuh pertolongan, kami, tenaga medis, ada untuk melayani. Teringat kembali kata-kata hipocrates,”to Cure seldom, to relieve often, to Comfort always.”
 
Copyright (c) 2010 dellasgarden. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.