Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

Wednesday, October 26, 2016

Hati, bagaimana kabarmu?

Merasakan betapa bermanfaatnya pertamini—pedagang bensin eceran. Saat hujan dan motor mogok di tengah jalan tembusan antah berantah.

Ingin posting status seperti itu, terbersit jempol-jempol yang akan menge-klik-nya, dan senang akan perhatian sang pemilik jempol. Hmm, kuurungkan niat posting itu. Rasanya status tak bermanfaat, selain melegakanku. Status yang tak kan membuatku atau yang lainnya bermasalah ketika tidak membuatnya. Puas. Hanya itu hasil dari postingan tersebut. Puasnya hati sesaat. Bukan puas yang murni

Hati. Bagaimana kabarmu? Carilah ia ditiga hal, saat membaca Qur’an, saat hadir dalam majelis ilmu, dan saat kesendirianmu. Saat kau tak menemukannya, mintalah pada Allah hati yang baru, karena sesungguhnya engkau tak punya hati. Hikz, begitukah kondisimu saat ini?

Berapa lama tak kuhidupkan, berapa lama tak diberi makan, berapa lama tak kuperhatikan sakitmu dan kubiarkan tanpa obat? Hidupnya hati dengan tauhid, makanannya adalah ilmu Qur’an dan Hadits, obatnya adalah fiqh.

Begitu tentramnya orang yang hanya memperdulikan penilaian makhluk langit. Ia tak sibuk dengan berapa banyak jempol (baca: Like) yang ia dapat. Berapa banyaknya mata yang telah membaca tulisannya. Berapa banyak comment yang mampir di blog nya.

Niat, begitu beratnya diluruskan. Sebelum, saat, dan setelah amal. Tercampur riya dan hilanglah pahala amal. Sudahkah niatmu lurus? Sudahkah hatimu mendengar petunjuknya? Atau ia mulai menunjukkan titik-titik kotor benih kerasnya hati?

Yaa Muqallibal Qulb, Tsabbit Qalbi ‘ala Diinik…


#menulis adalah saat berharga dimana aku berbicara dengan diriku.

Tuesday, July 19, 2016

Mendekapmu dalam Doa



Ada satu sosok yang baru sebentar aku kenal, namun terasa dekat. Membersamainya walau sepintas sudah merupakan berkah. Begitu istimewa waktu itu, 10 hari terakhir Ramadhan.

Muslimah yang baik, begitu cantik dengan senyumnya, begitu mulia dengan ilmunya. Ummu Zubair. Aku mengetahuinya sebagai istri syeikh imam sholat masjid Istiqamah saat itu. Hafidzul Quran pemegang sanad qiraah asyara’. Ia mengajarkan tahsin kepada jamaah wanita selepas dzuhur. Sebelum memulai pelajaran tahsin ia memberikan tausyiah dalam bahasa arab yang tentu saja dengan penerjemah. 

Tentang satu ayat dalam al Fatihah. Alhamdulillahirabbil’alamiin. Begitu agung ayat ini. Alhamdulillah, kita islam. Alhamdulillah kita berjilbab. Alhamdulillah kita sholat. Alhamdulillah kita termasuk dalam keluarga sholih. Rabbil ‘alamiin., wahai pengurus semesta alam. Bukan hanya alam manusia, melainkan seluruh alam, jin dan alam yang tidak kita ketahui hakikatnya. Satu ayat yang mungkin kita baca tanpa hati, namun jika kita renungi lagi, begitu sejuk ayat ini.

Dzikir, sangat ringan diucapkan, namun dapat memenuhi timbangan akhirat kita. Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil adzim.. Ketika membacanya 100x dalam satu hati, maka Allah ampuni dosanya walau sebanyak buih di lautan. Begitu pemurahnya Allah memberikan sedemikian besar pahala untuk amalan ringan ini

Kali lain, beliau bercerita tentang Lailatul Qadr. Apa itu lailatul qadr? Allah memberi kita tanya akan peristiwa besar, yang kita mungkin tak tahu begitu istimewanya peristiwa itu. Saat itu bumi penuh oleh malaikat, dan ar ruh yakni Jibril datang sepenuh malam. Utusan Allah ini datang, mendoakan manusia atas amalan baiknya. Saat itu dicatat setiap amalan dan dihitung pahala yang lebih dari 1000 bulan. Saat itu pula ditentukan takdir manusia selama 1 tahun kedepan. Seluruh malam itu dipenuhi rahmat hingga paginya. Rugilah mereka yang tidak mencarinya, rugi mereka yang tertidur, terlebih rugilah mereka yang melakukan amal tak manfaat seperti menikmati hiburan. Carilah malam itu di 10 hari terakhir Ramadhan, carilah dengan sungguh-sungguh, persedikit waktu tidur. Kapan lagi menemui kesempatan langka itu. Tausiyah beliau kali itu begitu menguras emosi, terlebih bagiku yang belum berhasil menghidupkan malam.

Saat itu, qadarullah, aku bertemu drg Ida, dan entah bagaimana, drg Ida memberitahu beliau kalau aku dokter, dan beliau butuh obat untuk batuknya. Hanya candaan sebenarnya, tapi kesempatan baik bagiku, kapan lagi berbuat baik untuk saudari muslim dari jauh? Silex-lah yang kupilih, obat batuk herbal, insyaAllah non alkohol. Saat diberi itu, ia menolak dan berkata, berapa? Tidak mau menerima obat gratis, dll. Dengan rayuan mb Nadila (teman yang menjadi penerjemah) akhirnya beliau mau menerima, dan tak pernah kulupa senyumannya. Jazakillah khair, barakallah, dan doa lain meluncur sering senyumnya. 

Hari lain, beliau mengajakku dan teman lainnya untuk berbuka di rumahnya. Kami mencicipi minuman segar (jeruk nipis parut dan gula plus air diblender sampai halus), sambosa, dan makanan Yaman yang aku tidak tau namanya. Batuk beliau sudah membaik, tapi nyeri tenggorokan belum berakhir dan beliau meminta tolong untuk diantarkan ke dokter THT. Alhasil malam itu drg Ida, aku, mba Nadila dan mba Kris ikut menemani beliau. 

Selepas dari dokter THT, kami singgah di mushola milik mba Nadila dan sholat tarawih diimami ummu Zubair. MasyaAllah bacaannya, merdu, syahdu, tak dapat dilukis dengan kata. Ingin mendengarnya terus. Dan saat itu kami duduk melingkar dalam majelis seusai tarawih. Ia bercerita tentang surat al Zalzalah, ayat : 4. Saat itu bumi mengabarkan beritanya. Di akhirat nanti, masih ada saja manusia yang berbohong atas perbuatannya, walau kaki, tangan dan seluruh anggota badannya bersaksi bahwa ia melakukan itu, namun ia tetap berkeras tidak melakukan itu. Saat itulah Allah akan bertanya pada ciptaannya yang lain, yakni Bumi. Saat itu bumi bersaksi, tiap jengkal bumi yang kita tapaki saat itu, akan bersaksi atas tiap perbuatan kita. Tak bisalah manusia berkeras pada dustanya. Tiap amalnya akan dipersaksikan oleh tiap anggota tubuhnya, oleh bumi dan lainnya.

Tiap kita adalah dai, maka berdakwahlah dengan profesi kita, jadilah yang berakhlak baik. Saat itu ia bercerita pula. Ia sakit yang memerlukan operasi, karna takutnya dengan anestesi ia membaca al-Baqarah sampai ia tertidur, selesai operasi ia berkenalan dengan dokter, perawat dan lainnya, tersenyum pada mereka, lalu memberi al Qur’an dan mereka semua terkesan, sampai setelah itu ada salah satu dokter dari Rusia meminta diajarkan shalat. Ia pun mengajari walau dengan menahan sakit pasca operasi, dan dokter itupun menangis. Itulah dakwah dengan akhlak.

Ya, senyumnya mengajarkan lebih banyak hal. Ia selalu bertemu dengan wajah tersenyum. Saat diberi hadiah, ia mendoakan, berterima kasih setulus hati, dan berkata,”Nahnu laa uridh hadiah, du’a du’a.” Begitulah saat kami tak ada penerjemah, kami yang nol koma bahasa arab berbincang dengan beliau yang sedikit-sedikit bicara bahasa Indonesia. Kami tidak ingin hadiah, namun do’a do’a. Doa dari saudara tanpa diketahui saudara itu akan didoakan malaikat dan dikatakan padanya,”dan untukmu juga.”

Saat ia berkata, anda ada di hati kami. Ya, dan engkaupun ada di hatiku. Sungguh ingin bertemu lagi, bersalaman, serta membalas senyum dan doanya. Tak sanggup, maka ingin kudekap engkau dalam doa. Semoga Allah memuliakan di dunia dan akhirat. Memudahkan jalan dakwah di bumi tercinta ini. Mengkaruniakan dengan keturunan yang shalih.

Tuesday, May 31, 2016

Berbagi Kebahagiaan bersama adik Panti Sumaryati Taylor



Alhamdulillah, atas kemudahan dari Allah, telah terlaksana kunjungan ke Panti Sumaryati Taylor pada hari Ahad, 29 Mei 2016. Rombongan yang berkunjung terdiri dari 24 orang dan disambut oleh 12 orang anak dan 2 pengurus panti, salah satunya pimpinan panti yakni bu Widyawati. Saya akan sedikit bercerita tentang pengurus dan adik panti yang keseluruhannya adalah perempuan. Pengurus panti terdiri 4 orang dengan bu Widyawati sebagai pimpinan. Adik panti saat ini keseluruhannya berjumlah 20 orang, 6 orang SD, 8 orang SMP dan 6 orang SMA. Tidak semuanya mukim alias tinggal di panti, ada sebagian adik yang masih mempunyai orang tua namun kurang mampu yang pulang ke rumah orang tuanya. 

Kembali ke kunjungan kami. Kunjungan dilaksanakan jam 10 sampai dengan jam 12, dimulai dengan penyerahan bantuan makanan dan alat tulis sekolah. Makanan yang diberikan berupa beras, susu bubuk sachet dan kurma. Sedang alat tulis yang diberikan yakni buku tulis, pulpen, pensil, penghapus, tip x, tempat alat tulis. Dana yang masih ada digunakan untuk uang saku yang diberikan langsung ke masing-masing adik dan ada pula dana untuk operasional panti.

Setelah penyerahan makanan dan alat tulis, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan. Sembari kami makan pastel, naked cake dan minum susu kedelai, bu Widyawati menceritakan asal nama panti. Beberapa saat sebelum kami tiba, ada rombongan dari komunitas lain datang tanpa pemberitahuan sebelumnya untuk memberikan bantuan sembako dan lain-lain dalam rangka rangkaian kegiatan keagamaan mereka, dan mereka bertanya,”Kenapa panti asuhan Islam tapi di namanya ga ada ‘nama Islam’nya?” Akhirnya bu Widya bercerita ke kami, bahwa bangunan panti itu adalah hibah dari bu Sumaryati yang bersuamikan muslim Australia bernama Taylor. Sehingga panti tersebut dinamakan Sumaryati Taylor. Saat ini mereka sudah tidak tinggal di Balikpapan, dan panti tersebut dikelola bu Widya bersama 3 pengurus lainnya. 



Ramah tamah dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh salah satu adik dan diamini oleh kami semua. Isi doa antara lain meminta keselamatan, serta meminta agar disampaikan pada Ramadhan. Kunjungan ditutup dengan berfoto bersama dan sedikit salam serta harapan dari bu Widya,”Semoga ga hanya sekali kesininya ya, kami tunggu tahun depan.” Saya spontan berceletuk,”Kenapa harus tunggu tahun depan bu, ga kelamaan?” Ibu menjawab,”Biasanya banyak orang datang saat momen Ramadhan.” Jleb. Antara senang dan sedih mendengarnya, Alhamdulillah, Ramadhan menjadi momen kita untuk mengingat dan berbagi dengan yang membutuhkan, namun sedihnya, apakah kita harus menunggu Ramadhan untuk peduli? Dan apakah hanya saat Ramadhan kita ingat untuk berbagi? 

Harapannya program ini dapat istiqamah berjalan, atau bahasa kerennya semoga kegiatan ini berkesinambungan, tidak hanya saat Ramadhan. Ditambah dengan kondisi ekonomi saat ini yang salah satunya berdampak pada panti, yakni tidak ada donatur tetap lagi. Semoga bantuan yang kecil ini dapat bermanfaat dan mendapat berkah. Terimakasih untuk seluruh donatur, semoga Allah memberikan balasan terbaik...


Friday, May 20, 2016

Mata, Karunia Tak Ternilai




Penglihatan...Begitu tak ternilainya karunia ini, sampai-sampai baru dirasakan nilainya ketika nikmat itu telah dicabut sedikit demi sedikit. 

Sedikit pelajaran mengenai mata kuingat. Proses manusia melihat. Cahaya berupa gelombang yang ditangkap oleh pupil, kemudian menuju lensa untuk kemudian diteruskan ke retina, dari retina sinyal tersebut dibawa ke otak melalui saraf optik. Disana, gambar yang diterima dari kedua mata yang awalnya dalam posisi terbalik, diterjemahnya sedemikian rupa seperti yang kita lihat. Dunia dengan berbagai warna dan bentuk, alam dengan segala kemegahannya, manusia dengan segala keelokan dan senyumnya. Semua kita nikmati setiap detiknya secara “otomatis” tanpa perlu mengetahui segala kerumitan dari proses melihat ini. Jangankan mengatur, untuk sekedar mempelajarinya saja sudah membuat kita pusing.

Saking otomatisnya proses melihat ini, kita kadang merasa bahwa nikmat ini memang ‘seharusnya’ ada pada diri kita. Kita yang punya mata, suka-suka kita dong mau lihat apa. Mata-mata gue.  Apa urusan loe? Begitulah ego kita berkata. Banyak hal-hal yang tidak perlu dilihat. Aurat wanita dan pria yang diumbar. Drama yang membuat hati panjang angan. Buku yang tidak menambah ilmu dan iman kita, hanya cukup membuat kita tertawa dan terlupa.

Bukan menghardik teman-teman, namun ini pengingat bagi diriku. Mbah Kung, adalah sosok yang dipilih Allah untuk menerima ujian ini. Di usianya yang 62 tahun, sekitar 2-3 bulan yang lalu, mbah merasa kabur pada mata kanan. Katarak imatur, proses yang terjadi pada lensa yang memang terjadi seiring bertambahnya usia, membuat penglihatan kabur. Berkali-kali mbah tanya padaku,”Harus operasi kah?” Mbah kung termasuk orang yang takut berhubungan dengan rumah sakit dan operasi. “Ya mbah, kalau parah harus operasi.”, begitu penjelasanku. Sekarang berobat saja dulu ke dokter mata, diikuti nasihat dokter matanya. 

“Di tetesi obat mata dulu ya pak dan pakai kacamata, belum perlu operasi.”, begitu hasil konsultasi dengan spesialis mata. Satu bulan belum dirasa perubahan, mbah mulai gelisah. Berkali-kali tanya padaku,”Kok masih kabur ya?” Tetangga mbah baru-baru saja operasi katarak, pagi operasi, sore langsung dapat melihat jelas. Tetangga itu pun menggebu menyarankan ke mbah,”Operasi aja pak Lan, mentereng langsung bisa lihat.” Setelah itu, mbah yang biasanya alergi dengan kata operasi, mendadak ingin segera dioperasi. Setelah Ramadhan adalah jadwal operasinya. Namun sebulan lalu, mbah ingin segera dioperasi dan dokter mata pun membolehkan. Setelah cek up, kadar gula terkontrol, jantung baik, mbah pun di operasi. Jelas mbah mempunyai harapan tinggi matanya dapat melihat jelas. Sorenya setelah operasi, mbah mengeluh,”Kok masi kabur ya?” Mbah Uti yang memang lebih ekspresif (baca : sedikit cerewet) segera menumpahkan emosinya. “Mbah Kung mu ini lho, pengennya sa’det sa’nyet. Pengen hari ini operasi, hari ini sembuh. Dokternya bilang ga usa operasi dulu, mbah ngotot operasi, sekarang sudah operasi, ngotot pengen sembuh hari ini. Sabar tho pak,.”, mbah uti mengeluhkan mbah Kung yang “grusa grusu” Aku hanya bisa menjelaskan,”Sabar mbah, kalau orang dengan gula memang sembuhnya lebih lama.”

Empat hari post operasi, mbah menjalani operasi kedua mata mata yang sama. “Di sedot.”, begitu penjelasan dokter ke mbah, aku tidak menemaninya kontrol karena bekerja. Setelah itu, mbah bilang matanya bisa melihat sinar merah, tidak jelas bentuk benda, hanya berupa sinar. Rutin mbah menjalani jadwal kontrol 1-2x tiap minggu, namun mbah mulai ga sabar dengan hasil yang tak kunjung sesuai harapannya. Dua bulan ini belum ada perubahan signifikan. Selama dua bulan ini, emosi mbah pun terkuras, bukan hanya Kung, tapi juga Uti. Mbah Kung mengeluh, “Kenapa  belum bisa melihat?” dan akhirnya malas melakukan apa-apa. Jualan es yang merupakan rutinitas memang ditinggalkan karena tidak boleh angkat berat post operasi. Rutinitas hanya berpindah dari kamar, ke ruang tamu, dan mushola dekat rumah. Selera makan pun berkurang, hanya makan nasi lauk kuah sayur. Ayam, telur, ikan, semua enggan dimakan. Uti tak kalah stress. Bingung harus memasakkan apa. “Mbah Kung itu ga mau makan apa-apa. Sudah susah-susah dimasakkan. Aku sudah berkorban banyak lho pak.” 

Kondisi itu bertambah runyam dengan pendengaran mbah Uti yang berkurang. Mbah Kung ngomong pelan, ga dengar, ngomong keras disangka teriak. “Belikan Alat Bantu Dengar,” itu perintah Kung ke aku. Aku belikan ABD sementara, namun kurang nyaman dipakai Uti, yang akhirnya tak dipakai rutin. Serba salah, Kung mengeluhkan Uti, Uti mengeluhkan Kung. “Suami ujian bagi istri, Istri ujian bagi suami,”itu istilah papaku.

“Mbah pengen ke rumah sakit lain, nanti sama dokter X, yang operasi Pak tetangga itu, biar ada perubahan.”
“Mbah ga pengen ke kondangan, naik tangganya susah, nanti nyusahin orang banyak, orang sudah cacat gini.”
“Biar sudah, sembuh ga sembuh, namanya penyakit sudah dibikin sendiri. Dulu yang ngotot operasi kan mbah.”

Begitu kata-kata bernuansa hilang harapan selalu kudengar dari Kung. Kucoba menghibur dengan,”Mbah, pas Haji dulu doanya apa hayo, pengen masuk surga kan? Kalau pengen masuk surga memang ada ujiannya. Pulang Haji, memang ada ujiannya untuk membuktikan mbah haji mabrur. Nanti dicuci dosanya, biar bisa masuk surga.” Lain waktu, kuceritakan tentang kisah anak kecil buta yang rela menempuh berkilo kilo meter untuk menghafal Qur’an dan ia minta agar penglihatannya tidak dikembalikan di dunia. “Mbah, kalau lagi diuji, harus tambah semangat ibadahnya. Ga bisa baca Qur’an, bisa dengerin kan?” Speaker Al-Qur’an pun kuhadiahkan untuk mbah. Aku pun merencanakan membawa mbah “jalan-jalan” ke Panti akhir bulan Mei ini, semoga bisa melembutkan hati, dan mendapat doa mustajab dari anak yatim yang dibantu. Belum juga mencapai tanggal 29 mei, hari ini terjadi yang telah kutakutkan.

Sore ini, telpon sebelum jaga malam mengejutkanku. Sekarang mata mbah yang kiri juga kabur. Tadi mbah kebingungan setelah sholat Isya karena tidak bisa pulang. Uti pun menelpon dengan suara bergetar sambil menangis, katanya Kung juga menangis. Ya Allah, Kung yang merupakan sosok tegar selama ini telah berada di puncak kerapuhannya dengan diambil sedikit nikmat penglihatan. Bila selama ini ia tegar dengan penyakit diabet dan hipertensi yang mengharuskannya meminum 4 jenis obat rutin, kali ini ketegaran itu hancur dengan kedua matanya yang kabur.

Aku yang notabene dokter umum pun tak bisa berbuat banyak, hanya kusarankan mbah istighfar yang banyak, kita ke dokter mata ya secepatnya. Katarak dan Diabetes memang bukan kombinasi yang baik, diabetes memperparah proses penyembuhan katarak. Ketika operasi pada mata satu kurang berhasil, riskan untuk operasi mata lainnya. Jelas emosi terkuras,”Bagaimana jika tidak berhasil lagi? Bagaimana kalau tidak bisa melihat lagi?”. Pemikiran seperti itu saja sudah membuat bergidik.

Tahap demi tahap mbah diuji dengan penglihatan kaburnya semakin membuatku sadar dengan betapa besarnya nikmat penglihatan ini. Kejadian didepanku serasa menamparku yang masih belum mempergunakan mata ini dengan baik. Rasanya ingin tiap detik dihabiskan untuk melihat yang bermanfaat, baca dan menghafal al-Qur’an, mengkhatamkan buku bacaan di rumah. Ingin rasanya tidak berlebihan tidur, tidak menonton tivi, tidak melihat hal-hal yang membuat panjang angan-angan. Semua ingin kulakukan sebelum nikmat penglihatan ini diambil kembali oleh Sang Pemilik.

Kadang aku merasa nikmat ini belum sesempurna orang lain yang berpenglihatan normal. Mataku high myop dan cylinder, membuatnya terlihat sedikit strabismus.  Resiko ablatio retina lebih besar, terlebih saat mengejan jika melahirkan normal, sehingga orang yang sepertiku biasanya disarankan untuk operasi caesar jika melahirkan. Aku tak dapat melihat jelas tanpa kacamata. Suatu saat aku merasakan ketakutan saat kacamata itu tak dapat kutemukan. Kecemasan yang mengerikan walau terjadi hanya sesaat.

Sungguh, itu tidak ada apa-apanya dengan yang dirasakan mbah. Walaupun mbah selama 62 tahunnya dapat menglihat jelas, ternyata ia pun begitu terpukul ketika penglihatan itu mulai menghilang.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(QS Al Baqarah : 286)

Allah memilih mbah karena mbah mampu, dan semoga mbah sadar sepenuhnya hal itu. Dan bagi diriku yang masih memiliki penglihatan jelas, tidak ada lagi alasan, mata ini harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk sesuatu yang bermanfaat.

Catatan untuk diriku,
Di balik meja poli, saat jaga malam
21.05.16 , 00.35

Friday, May 6, 2016

Berbagi Kebahagiaan Menjelang Ramadhan




Mengajak teman dan saudara di Balikpapan untuk berbagi kebahagiaan menjelang Ramadhan bersama anak panti. InsyaAllah saya akan berkunjung ke Panti Asuhan di Balikpapan sebelum Ramadhan, untuk memberikan bantuan uang dan makan siang pada hari itu.

Bagi yang mau ikut untuk menyumbang uang dapat mengumpulkan (secara tunai atau transfer) ke saya. Sebagai gantinya (atau ucapan terima kasih saya bagi yang menyumbang), yang mau :
-          Pemeriksaan gula/asam urat/kolesterol, boleh
-          Pinjem buku Islam, monggo
-          Konsultasi kesehatan, dipersilahkan

Nah, yang mau pahala dari Allah, boleh banget, tapi mintanya sama Allah yaa, saya fasilitasi dengan mengumpulkan uang dan menyalurkannya

Setelah kunjungan, insyaAllah foto kegiatan akan saya bagikan, sebagai bukti pertanggungjawaban.
Info lebih lanjut hubungi Jofan Viradella 081.233.898.414

Itulah BC yang saya bagikan ke teman-teman di Balikpapan. Membingungkan ya? Wajar, saya memang mbingungi orangnya, hehe. Saya jelaskan pelan-pelan yaa...

Apa sih maksudnya?
Kegiatan di atas murni dari keinginan pribadi, bukan melalui lembagai / yang lainnya. Tujuan ingin memberikan sumbangan uang dan hadiah makan siang pada anak panti asuhan. Dan mengambil momen sebelum Ramadhan, agar lebih terasah dan terlatih melakukan kebaikan sebelum datang Ramadhan

Kenapa tidak melalui lembaga resmi saja?
Jelas, lembaga resmi punya program sejenis, hanya saja, saya ingin mendatangi langsung panti tersebut, melihat anak-anaknya, membelai rambutnya (kalau masih kecil sih, alias belum baligh, hehe). Sesuai hadist,
Jika kamu ingin melembutkan hatimu,maka  berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim..(Hadist Hasan, riwayat Ahmad dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Kenapa pake ngajak-ngajak? Pake dana sendiri aja bisa kan?
Jelas bisa, hanya saja kalau hanya dari kantong saya, jelas yang terkumpul tidak banyak (jujur banget ya, hehe). Oleh karena itu, saya mengajak teman-teman untuk ikut.

Trus, apa maksudnya sebagai ganti bisa periksa gula dkk?
Saya hanya dokter umum yang suka ngumpulin dan (kalau sempat) baca buku. Jadi yang bisa saya tawarkan sebagai ganti teman-teman ikut menyumbang adalah pemeriksaan gula darah atau asam urat atau kolesterol.  Mungkin teman-teman/orang tuanya ingin memeriksakan hal itu. Tentunya dengan konfirmasi, karena saya perlu mempersiapkan stik nya.

Nah, untuk buku, di rumah saya ada tumpukan buku (baik yang sudah terbaca maupun belum) yang mungkin teman-teman minat baca, saya rela pinjamkan untuk dibaca. Untuk judul buku, bisa tanyakan ke saya, sudah saya buat daftar judul bukunya.

Sedang untuk konsultasi kesehatan, saya membantu semaksimal yang saya bisa. Kalau tidak bisa, mohon tunggu untuk saya tanyakan kepada yang lebih ahli (hehe)

Terakhir yang ingin pahala dari Allah, jelas boleh banget, tapi mintanya sama Allah, saya hanya membantu menfasilitasi. Semoga Allah memudahkan kita untuk berbuat kebaikan.

Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia akan berkata,”Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata,”Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS Al Fajr : 15-20)

Ya Allah, maafkanlah kami, mudahkan kami memuliakan anak yatim dan mengajak memberi makan orang miskin..
 
Copyright (c) 2010 dellasgarden. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.