Showing posts with label Gaza. Show all posts
Showing posts with label Gaza. Show all posts

Monday, April 28, 2014

Membalut Luka Gaza




Sebuah buku karangan dr Prita SpOG dkk. Penerbit Salsabila



Buku ini kubeli di Istiqamah Book Fair tgl 26 April 2014. Setelah melihat sekilas semua judul buku, aku langsung tertarik pada buku ini. Alasannya adalah covernya yang eye- catching yaitu anak-anak Palestina dengan senyum cerianya, ditambah dengan penulisnya seorang dokter Obsgyn wanita dan ternyata ini kisah dokter relawan BSMI yang berangkat ke Gaza! (Hehe, alasannya profesi banget ya?) Tidak sebanding dengan harganya, hanya mengeluarkan kocek 23rb dan kita mendapatkan kisah luar biasa. Kumpulan kisah yang ditulis oleh relawan-relawan yang datang ke Gaza.

Aku disuguhkan dengan artikel ‘Selamat Datang di Tanah Anbiya’, yang aslinya adalah sambutan dari dr.Midhaad Abbas, Direktur Jendral Hubungan dan Kerjasama Internasional Departemen Kesehatan Palestina. Ia menceritakan kisah blokade Israel atas Gaza, rumah rata dengan tanah, dan setiap hari mereka terbangun dengan pertanyaan : siapa dari kami yang akan terbunuh hari ini? Ia melanjutkan,”Anda mungkin heran, mengapa kami masih tertawa bahagia, dan menjalani hidup seperti ini? Karena dalam hidup ini hanya ada 2 pilihan : hidup bahagia di dunia atau wafat dalam syahid untuk syurga. Kami menjadikan hidup ini sesederhana apa adanya. Dengan kalian berdiri di sini, biarlah Israel tahu bahwa kami tidak pernah sendiri. Bahwa kesombongan tidak akan pernah mendapat tempat di dunia, apalagi di akhirat. Terima kasih saudaraku, terima kasih telah membalut luka kami. Terima kasih telah mengusap air mata kami.” Bila aku menjadi salah satu relawan disana, mungkin sudah basah mata ini oleh haru dan bangga bisa bertemu dengan sosok tegar pahlawan Palestina.

Kisah dr Prita yang pertama adalah saat penyambutan oleh pihak UCAS. Rasa haru menyeruak mereka, karena mereka yang berpakaian seadanya disambut oleh pejabat universitas berpakaian rapi, sebuah spanduk selamat datang. Setelah itu mereka dipanggil satu persatu untuk diberikan sertifikat penghargaan dan souvenir. Namun lucunya, saat penjamuan makan, ternyata ada minuman bersoda asal Amerika bersanding dengan makanan yang cukup mewah yang mereka sediakan. Saat ditanya, ternyata mereka tidak punya pilihan lain, karena begitu susahnya mereka mendapatkan barang. Hanya itu yang bisa mereka dapat melalui tunnel, terowongan yang menghubungkan Rafah dengan Mesir yang notabene sangat tidak aman karena selalu di bom Israel atau disemprot gas beracun oleh Mesir. Sungguh istimewa sifat mereka memuliakan tamu, rela bertaruh nyawa demi memberi yang terbaik.

Giliran dr. Jamaludin, Sp.M untuk berbagi kisahnya. Saat itu, selepas dari RS Uyun ia mampir ke rumah Yasi, kepala perawat OK yang menemaninya seharian itu. Ia bertemu dengan kedua orang tua Yasi berusia 80 tahun, dan anggota keluarga lainnya. Tiba-tiba DUARRR! Ledakan keras, listrik padam. Saat itu dalam pikiran hanya satu : ia akan mati. Terbayang anak istri di tanah air. Dalam remang, ia melihat Yasi dan lainnya tampak tenang. “Bom seperti itu biasa. Yahudi hanya menakut-nakuti. Hidup mati ada di tanganNYa.” Dr. Jamal tahu, toh kalau ia mati, mati syahid, dijamin syurga. Namun ia tetap takut. Yasi menenangkan ia dengan secangkir teh dan berkata,”Kami cinta syahid. Aku ingin dua atau tiga anakku menjadi syahid.”, ujarnya ringan. Dr. Jamal terbelalak. Ia kagum. Sungguh keberanian rakyat Palestina adalah pembebas diri. Ketakutan adalah pemasung jiwa. Semoga mendapat setitik keberanian dari jiwa rakyat Palestina yang merdeka.

Kisah lain datang dari Sinta Yudisia saat bertandang ke Kementrian Wanita Palestina. Disana terdapat potret wanita Palestina dengan tangan kiri mengangkat tinggi menggenggam matahari, dari dirinyalah lahir generasi penghafal alQuran yang membuat Yahudi gentar. Ia heran, bagaimana mereka begitu tegar? “We believe in Allah. Kami mengajarkan anak kami bahwa apa pun di dunia berasal dari Allah dan kembali pada Nya.” Penjelasan ini sudah ratusan kali didengar, namun rasanya benar-benar berbeda dan menggetarkan ketika meluncur dari bibir seorang perempuan yang mengalami pahit getirnya peperangan. “Allah is giving hasanah.” Ini keyakinan abadi mereka, Allah selalu memberi kebaikan, bahkan ketika sesuatu itu bernama penderitaan. Mereka tidak pernah memaki kegelapan, tetapi menyalakan pelita bagi orang yang membutuhkan.

Kisah lain dari dr Prita. Di Halte bus di Jabaliya, banyak terpampang poster wajah mereka yang wafat ketika terjadi serangan Israel. Seorang pria dengan antusias menunjukkan foto anaknya yang syahid. Wajahnya berseri tanpa rasa sedih. Yang ada hanya kebanggaan dan keyakinan tinggi bahwa mereka yang wafat adalah pembakar semangat.
“Kami sedang berada di gedung. Aku harus keluar gedung mencari toilet. Saat itu Israel menjatuhkan bom tepat di atas gedung tempat anakku berada.”ia tersenyum
“Apa yang kau rasakan?”tanya dr Basuki, suami dr Prita.
“Aku menyesal.”jawabnya singkat
“Tentu saja semua orang sedih bila kehilangan anaknya.”lirih dr Basuki.
“Tidak. Aku menyesal karena tidak berada di gedung dan syahid bersama anakku.” Sorot matanya menampakkan rasa bangga yang tidak dapat ditutupi.
Terbuat dari apa jiwa mereka? Wajah berseri saat menceritakan sanak saudara yang syahid. Kerabat dan tetangga pun datang untuk berbela sungkawa tiga hari berturut-turut. Cukup, tak berlama-lama dengan kesedihan. Kematian bukanlah satu momen untuk bersedih karena kehilangan, bukan untuk meratap terus-menerus. Namun untuk menyalakan kebanggaan, semangat, cinta, dan rindu syahid, wafat karena membela harga diri dan agama.

Dr. Kiagus Erick, Sp.An datang dengan kisahnya sendiri. Ia menyaksikan kejadian yang sulit dijelaskan akal sehat. Ia mendapati bahwa sarapan yang sejak pagi disiapkan tim logistik namun baru dapat dimakannya siang hari itu tetap hangat seperti baru dihidangkan. Padahal suhu di luar sekitar 12-16C! Kejadian lainnya, saat di ruang operasi, semua operasi yang ia lakukan berjalan lancar. Hampir tidak ada perdarahan sehingga tak memerlukan transfusi darah padahal operasi tergolong besar seperti amputasi, thorakotomi. Tak cukup itu, bau jenazah sama sekali tidak tercium busuk padahal lokasi kamar jenasah dekat sekali dengan tempat peristirahatan tim. Selama betugas tak henti lisannya mengucap pujian kepada Allah. Mungkin ini berkah Allah untuk menguatkan keimanan mereka.

Kisah Rudi relawan logistik bersama dr Fuadi, Sp.KJ tidak kalah hebatnya. Mereka berkunjung ke RSJ disana. Pasca serangan Israel selama 2 minggu, 906 nyawa syahid, 4100 korban luka, dan mereka hanya mendapati 18 orang saja yang dirawat di Gaza Psychiatry Hospital. Dari 1,5 juta rakyat, hanya 18 orang mengalami gangguan kejiwaan. Anak-anak Gaza pun tak kalah hebat, mereka tidak bermental pengemis. Mereka gigih menawarkan dagangan teh namun tetap sopan tidak memaksa. Mereka hanya mau menjual, tidak meminta meski situasi mereka sangat sulit. Harga diri dan kesucian diri mereka seperti harga mati yang tidak bisa dibeli.

Ada kisah Asdaa Land, sebuah daerah lahan hijau di Gaza yang dipenuhi kebun tin zaitun dan ada pula kolam untuk peternakan ikan. Di tengah segala keterbatasan, tak ada alasan bagi mereka bertopang dagu berpangku tangan. Mereka mengelola aset yang telah disediakan alam.

Kisah ibu di Gaza pun tak kalah membakar semangat. Ibu yang melahirkan di RS Gaza, mereka biasa mempercepat proses persalinan, dan hanya istirahat 3-4 jam pasca melahirkan. Setelah itu mereka pulang dan menjalani kehidupan biasa. Rata-rata mereka punya 6 anak—mayoritas laki-laki, dan wanita perkasa ini menghandle semua pekerjaan rumah tanpa asisten. Super woman!

Lebih hebat dari itu, pimpinan tertinggi di Gaza, PM Dr.Ismail Haniyya ternyata sosok yang sederhana. Di tengah petugas protokoler, ia muncul hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana warna gelap, tidak memakai jas sebagaimana stafnya. Yang mana PM yang mana staf hanya terlihat dari karisma wajah, bukan penampilan atau aksesori lainnya. Ia berterima kasih kepada relawan dan lebih mengejutkan, ia sendiri yang memberi cenderamata yang dibubuhi tanda tangan asli beliau ke masing-masing anggota rombongan, bukan hanya ketua tim. Geraknya mencerminkan rasa hormat dan terimakasih mendalam. Kapan lagi ada seorang pemimpin negara seperti beliau.

Begitu banyak kisah lainnya, yang tak dapat kuceritakan satu persatu. Rekomendasiku adalah baca, dan temukan semangat itu.!! Doaku untukmu Palestina. Negeri yang terjajah oleh Israel, Amerika dan antek-anteknya, namun selalu dijaga olehNya. Dan Allah sebaik-baik Penjaga.

Monday, November 19, 2012

Tunggu Aku di Sana..

Entah kenapa saat pertama baca artikel ini langsung jatuh cinta. Jatuh cinta pada siapa? Penulisnya? Jelas bukan, lha wong ga kenal blas. Pada sosok Furkan Dogan yang diceritakan? Hmm, bukan juga. Tapi iya juga. Lho??? lebih tepatnya aku jatuh cinta (atau iri ya?) pada sikap dan idealismenya, pada kecintaannya pada Islam. Berapa banyak pemuda yang lebih memilih bersantai di depan tv, nyemil, sambil sesekali membuka buku kuliah dibandingkan 'nekat' menjadi relawan kemanusiaan di Gaza? Tentunya lebih banyak yang memilih bersantai ria (termasuk diriku saat ini >_<, ya Allah, semoga ada kesempatan untuk menjadi relawan di sana, suatu saat nanti!!)

Ups, terlalu panjang prolog tidaklah baik, langsung cek ya teman artikel di bawah ini (link aslinya dari http://sahabatalaqsha.com/nws/?p=4863)

Sunday, November 18, 2012

Muharram 1434H, Ada yang Istimewa? #Save Gaza!



Muharram kali ini ‘istimewa’.  Kedamaian Gaza, Palestina untuk kesekian kalinya dirusak oleh zionis Israel. Lebih dari seratus rudal diluncurkan di Rabu malam 14 November 2012 (bertepatan dengan 1 Muharram 1434H). Israel berdalih aksi “Pillar of Cloud” brutal itu untuk mempertahankan diri dari serangan Hamas, dan nyatanya, peluru tersebut ‘nyasar’ pada tubuh warga sipil, wanita dan anak-anak.#cek sahabatalaqsha.com


Dunia tidak tinggal diam, aksi di lebih dari 50 negara dilakukan untuk mengecam tindakan ini. Tidak diam pula muslim Indonesia, pun di pojok Surabaya. Aksi Damai untuk Palestina digelar oleh muslim Surabaya. Aksi ini bertempat di depan gedung DPRD dan dimulai pukul 10.00 pagi. Massa berasal dari berbagai organisasi muslim, yaitu KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) yang didukung oleh KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), FSLDK(Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus), BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), SALIMAH, IKADI (Ikatan Dai Indonesia) dan lainnya. Tidak peduli bendera mana yang diusung, satu isu yang diangkat : Save Gaza! Dari Indonesia untuk Palestina. Aksi solidaritas kemanusiaan, dukung gerakan 1 juta dola untuk Palestina.

Aksi ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Ash Shaff 10-14.
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. ...
Semangat peserta aksi juga dipanaskan dengan lagu dari Shoutul Harakah, Merah Saga
Ketika yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah ditanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan bumi jihad palestina
Perjuangan telah kau bayar dengan jiwa,
Syahid dalam cinta-Nya

Sejak serangan Israel ke Palestina hari Rabu tercatat telah menewaskan 32 orang dimana 12 diantaranya adalah anak-anak, wanita dan lansia. Sementara korban luka-luka mencapai 335 orang dimana 150 diantaranya anak-anak dan perempuan. Saat ini warga Palestina tengah membutuhkan dukungan dari berbagai pihak akibat serangan Israel. Banyaknya korban yang jatuh akibat serangan menyebabkan rumah sakit di Gaza kekurangan obat.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan seruannya atas serangan  Israel ke Jalur Gaza, Palestina. “Saya berharap baik PBB, negara-negara di kawasan bisa mendorong Israel untuk menghentikan aksi-aksi militernya, serangan udaranya, dan setelah itu kedua belah pihak mencegah aksi-aksi baru yang bisa memunculkan konflik apalagi peperangan yang luas”papar beliau.

Saudara kita di Palestina tentunya membutuhkan banyak hal. Tentara untuk mengusir zionis, dana untuk membangun berbagai fasilitas yang dirusak, dan doa tentunya. Tentara? Mungkin sebagian dari kita belum memungkinkan untuk pergi ke Gaza. Doa? Tentu itu senantiasa kita ingat dalam sholat kita. Dana? Inilah yang dapat kita lakukan sekarang, pengumpulan dana. Untuk membangun gedung sekolah yang dihancurkan, untuk membeli persediaan obat yang terbatas, untuk membeli peluru-peluru yang akan menghancurkan tentara zionis. Allahu Akbar! Begitulah kira-kira isi orasi yang disampaikan oleh ust Ali Ridho dari IKADI. Dan aksi damai ini dilanjutkan dengan penggalangan dana, baik dari peserta aksi dan pemakai jalan saat itu.

 
Teatrikal tentang pembunuhan warga sipil Palestina oleh tentara Israel, disaksikan oleh PBB yang tidak berbuat apa-apa dimainkan apik oleh peserta aksi. Penutupan aksi damai adalah dengan doa oleh ust Ali Ridho, ya Allah, lindungilah saudara-saudara kami di Palestina.
Aksi damai mungkin hanya berlangsung sementara, saat ini, namun bantuan kita tak boleh berhenti, minimal dana dan doa. InsyaAllah infaq terbaik teman-teman dapat disalurkan ke BSM 701 836 2133 atau BCA 760 032 5099 a.n. KomNas untuk Rakyat Palestina.   

Terakhir, sedikit tambahan taujih dari seorang teman. Ust Yusuf Mansur suatu saat bertemu orang-orang Gaza, sambil mendoakan menangis. Mereka bilang,”Jangan tangisi kami, justru kami yang menangisi Anda. Karena Anda tidak bisa MATI SYAHID, kami bisa.” MasyaAllah, sedemikian hebatnya mereka. Lalu kapan kita jihad? Adakah jihad di kita? Jawabannya “ADA”, salah satu jihad adalah shalat di awal waktu. Sudahkan kita shalat di awal waktu?
 
Copyright (c) 2010 dellasgarden. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.