Sunday, May 22, 2016

Ujian Tajwidi



Akhirnya setelah sekian lama tak melanjutkan postingan artikel tahsin, sekarang akan saya kebut tulis artikel ini dari yang paling dekat waktunya yaitu tentang Ujian Tajwidi. Minggu lalu adalah ujian tajwidi saya yang ke-3 dan tinggal menunggu pengumuman tanggal 12 Juni 2016 untuk daftar ulang (semoga Allah berikan yang terbaik, dan semoga yang terbaik bagi saya adalah lulus ke level selanjutnya, ^^)

Tajwidi adalah level yang ditempuh setelah lulus tahsini. Selama 16 kali pertemuan dalam 4 bulan kita fokus belajar teori dasar tentang tajwid. Mulai dari keutamaan membaca al-Qur’an, tempat keluar huruf, sifat huruf, mad, dan lain-lainnya (insyaAllah saya posting di artikel yang lain) . Setelah itu diadakan ujian tajwidi. Yang berbeda dari ujian level lain, pada level ini ujian terdiri dari ujian tulis dan lisan. Ujian tulis dibagi menjadi 2 kali, materi ujian pertama adalah separuh buku awal, materi ujian kedua adalah separuh buku terakhir. Bila rata-rata nilai kurang dari 70, diadakan remidi yang materinya seluruh buku. Setelah lulus ujian tulis, baru diadakan ujian lisan.


Ujian tulis biasanya terdiri dari 5 nomor yang beranak 3, semua materi diambil dari buku. Sedikit tips tentang ujian, jika diminta menyebutkan contoh, maka tuliskan contoh kata. Contoh bila diminta sebutkan contoh idzhar, maka tuliskan contoh kata, bukan hanya pengertian bahwa idzhar terjadi ketika nun bertemu huruf halqi. Sebelum ujian dilakukan, kita bisa request ke ustadzah yang mengajar untuk memberikan try out. Kelas saya cukup beruntung dengan sempat mengadakan 4 kali try out. Berikut saya bagi contoh soal try out tajwidi materi 2 :
 


a.       Apa pengertian mad
b.      Sebutkan mad yang panjangnya >2 harakat yang disebabkan oleh hamzah
c.       Apa pengertian mad badal
 
a.       Berikan 2 contoh (kata) mad iwadh
b.      Apa perbedaan mad shilah shugro dan kubro
c.       Apa perbedaan mad aridh dan mad lin

a.       Apa pengertian mad lazim kalimi mukhoffaf
b.      Pada huruf muqotho’ah (alif lam mim ra) ada berapa mad dan sebutkan
c.       Sebutkan kesalahan yang terjadi ketika membaca mad

a.       Apa definisi waqaf
b.      Sebutkan 1 dalil tentang waqaf
c.       Sebutkan macam-macam waqaf
 
a.       Apa pengertian waqaf kafi
b.      Apa hukumny waqaf tam
c.       Apa pengertian waqaf qabih

Berlanjut ke ujian lisan. Ujian lisan tajwidi yakni kita diminta membaca 1 halaman dari Al-Qur’an dan disimak oleh dua orang penguji. Apabila ada yang kurang tepat, kita akan diminta mengulang bacaan. Setelah selesai membaca 1 halaman, kita akan ditanya tentang teori. Biasanya kita akan ditanya teori huruf yang kurang tepat kita baca. Contohnya saya, saat membaca huruf dzo kurang ithbaq, sehingga saya ditanya teori tentang makhraj dan sifat huruf dzo. Selain itu saya ditanya tentang mad apa saja yang terdapat pada huruf muqatthoah pada halaman tersebut.

Begitulah, tajwidi bukan hanya sekedar teori, tapi bagaimana bisa mempraktekkan teori tersebut ke dalam bacaan Al-Qur’an kita. Sedikit catatan penguji terhadap saya kemarin :


  1. Huruf dzo kurang ithbaq
  2. Huruf ra dan syin tidak perlu menggerakkan bibir, karena dua huruf tersebut bukan huruf bibir. (Tapi bagi saya rasanya masih janggal mempraktekkannya, karena kalau huruf syin ga pake bibir, rasanya kurang tafasyi, >_< #alasanmodeon)
  3.  Alhamdulillah saya tidak dikomentari huruf ‘ain dan dlod yang (masih) merupakan momok bagi saya

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahla, wa anta taj’alu hazana idza syi’ta sahla. Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau yang menjadikan yang susah itu mudah. 

Sekian sedikit cerita tentang ujian tajwidi. Belajar adalah proses seumur hidup, begitupun tahsin, perlu senantiasa belajar atau mengajar agar ilmu itu tidak hilang. Sekarang pertanyaan polos dari teman sekelompok saya saat kelas terakhir, pilihannya adalah jadi murid abadi, atau sekaligus menjadi guru? Hmm...

Friday, May 20, 2016

Mata, Karunia Tak Ternilai




Penglihatan...Begitu tak ternilainya karunia ini, sampai-sampai baru dirasakan nilainya ketika nikmat itu telah dicabut sedikit demi sedikit. 

Sedikit pelajaran mengenai mata kuingat. Proses manusia melihat. Cahaya berupa gelombang yang ditangkap oleh pupil, kemudian menuju lensa untuk kemudian diteruskan ke retina, dari retina sinyal tersebut dibawa ke otak melalui saraf optik. Disana, gambar yang diterima dari kedua mata yang awalnya dalam posisi terbalik, diterjemahnya sedemikian rupa seperti yang kita lihat. Dunia dengan berbagai warna dan bentuk, alam dengan segala kemegahannya, manusia dengan segala keelokan dan senyumnya. Semua kita nikmati setiap detiknya secara “otomatis” tanpa perlu mengetahui segala kerumitan dari proses melihat ini. Jangankan mengatur, untuk sekedar mempelajarinya saja sudah membuat kita pusing.

Saking otomatisnya proses melihat ini, kita kadang merasa bahwa nikmat ini memang ‘seharusnya’ ada pada diri kita. Kita yang punya mata, suka-suka kita dong mau lihat apa. Mata-mata gue.  Apa urusan loe? Begitulah ego kita berkata. Banyak hal-hal yang tidak perlu dilihat. Aurat wanita dan pria yang diumbar. Drama yang membuat hati panjang angan. Buku yang tidak menambah ilmu dan iman kita, hanya cukup membuat kita tertawa dan terlupa.

Bukan menghardik teman-teman, namun ini pengingat bagi diriku. Mbah Kung, adalah sosok yang dipilih Allah untuk menerima ujian ini. Di usianya yang 62 tahun, sekitar 2-3 bulan yang lalu, mbah merasa kabur pada mata kanan. Katarak imatur, proses yang terjadi pada lensa yang memang terjadi seiring bertambahnya usia, membuat penglihatan kabur. Berkali-kali mbah tanya padaku,”Harus operasi kah?” Mbah kung termasuk orang yang takut berhubungan dengan rumah sakit dan operasi. “Ya mbah, kalau parah harus operasi.”, begitu penjelasanku. Sekarang berobat saja dulu ke dokter mata, diikuti nasihat dokter matanya. 

“Di tetesi obat mata dulu ya pak dan pakai kacamata, belum perlu operasi.”, begitu hasil konsultasi dengan spesialis mata. Satu bulan belum dirasa perubahan, mbah mulai gelisah. Berkali-kali tanya padaku,”Kok masih kabur ya?” Tetangga mbah baru-baru saja operasi katarak, pagi operasi, sore langsung dapat melihat jelas. Tetangga itu pun menggebu menyarankan ke mbah,”Operasi aja pak Lan, mentereng langsung bisa lihat.” Setelah itu, mbah yang biasanya alergi dengan kata operasi, mendadak ingin segera dioperasi. Setelah Ramadhan adalah jadwal operasinya. Namun sebulan lalu, mbah ingin segera dioperasi dan dokter mata pun membolehkan. Setelah cek up, kadar gula terkontrol, jantung baik, mbah pun di operasi. Jelas mbah mempunyai harapan tinggi matanya dapat melihat jelas. Sorenya setelah operasi, mbah mengeluh,”Kok masi kabur ya?” Mbah Uti yang memang lebih ekspresif (baca : sedikit cerewet) segera menumpahkan emosinya. “Mbah Kung mu ini lho, pengennya sa’det sa’nyet. Pengen hari ini operasi, hari ini sembuh. Dokternya bilang ga usa operasi dulu, mbah ngotot operasi, sekarang sudah operasi, ngotot pengen sembuh hari ini. Sabar tho pak,.”, mbah uti mengeluhkan mbah Kung yang “grusa grusu” Aku hanya bisa menjelaskan,”Sabar mbah, kalau orang dengan gula memang sembuhnya lebih lama.”

Empat hari post operasi, mbah menjalani operasi kedua mata mata yang sama. “Di sedot.”, begitu penjelasan dokter ke mbah, aku tidak menemaninya kontrol karena bekerja. Setelah itu, mbah bilang matanya bisa melihat sinar merah, tidak jelas bentuk benda, hanya berupa sinar. Rutin mbah menjalani jadwal kontrol 1-2x tiap minggu, namun mbah mulai ga sabar dengan hasil yang tak kunjung sesuai harapannya. Dua bulan ini belum ada perubahan signifikan. Selama dua bulan ini, emosi mbah pun terkuras, bukan hanya Kung, tapi juga Uti. Mbah Kung mengeluh, “Kenapa  belum bisa melihat?” dan akhirnya malas melakukan apa-apa. Jualan es yang merupakan rutinitas memang ditinggalkan karena tidak boleh angkat berat post operasi. Rutinitas hanya berpindah dari kamar, ke ruang tamu, dan mushola dekat rumah. Selera makan pun berkurang, hanya makan nasi lauk kuah sayur. Ayam, telur, ikan, semua enggan dimakan. Uti tak kalah stress. Bingung harus memasakkan apa. “Mbah Kung itu ga mau makan apa-apa. Sudah susah-susah dimasakkan. Aku sudah berkorban banyak lho pak.” 

Kondisi itu bertambah runyam dengan pendengaran mbah Uti yang berkurang. Mbah Kung ngomong pelan, ga dengar, ngomong keras disangka teriak. “Belikan Alat Bantu Dengar,” itu perintah Kung ke aku. Aku belikan ABD sementara, namun kurang nyaman dipakai Uti, yang akhirnya tak dipakai rutin. Serba salah, Kung mengeluhkan Uti, Uti mengeluhkan Kung. “Suami ujian bagi istri, Istri ujian bagi suami,”itu istilah papaku.

“Mbah pengen ke rumah sakit lain, nanti sama dokter X, yang operasi Pak tetangga itu, biar ada perubahan.”
“Mbah ga pengen ke kondangan, naik tangganya susah, nanti nyusahin orang banyak, orang sudah cacat gini.”
“Biar sudah, sembuh ga sembuh, namanya penyakit sudah dibikin sendiri. Dulu yang ngotot operasi kan mbah.”

Begitu kata-kata bernuansa hilang harapan selalu kudengar dari Kung. Kucoba menghibur dengan,”Mbah, pas Haji dulu doanya apa hayo, pengen masuk surga kan? Kalau pengen masuk surga memang ada ujiannya. Pulang Haji, memang ada ujiannya untuk membuktikan mbah haji mabrur. Nanti dicuci dosanya, biar bisa masuk surga.” Lain waktu, kuceritakan tentang kisah anak kecil buta yang rela menempuh berkilo kilo meter untuk menghafal Qur’an dan ia minta agar penglihatannya tidak dikembalikan di dunia. “Mbah, kalau lagi diuji, harus tambah semangat ibadahnya. Ga bisa baca Qur’an, bisa dengerin kan?” Speaker Al-Qur’an pun kuhadiahkan untuk mbah. Aku pun merencanakan membawa mbah “jalan-jalan” ke Panti akhir bulan Mei ini, semoga bisa melembutkan hati, dan mendapat doa mustajab dari anak yatim yang dibantu. Belum juga mencapai tanggal 29 mei, hari ini terjadi yang telah kutakutkan.

Sore ini, telpon sebelum jaga malam mengejutkanku. Sekarang mata mbah yang kiri juga kabur. Tadi mbah kebingungan setelah sholat Isya karena tidak bisa pulang. Uti pun menelpon dengan suara bergetar sambil menangis, katanya Kung juga menangis. Ya Allah, Kung yang merupakan sosok tegar selama ini telah berada di puncak kerapuhannya dengan diambil sedikit nikmat penglihatan. Bila selama ini ia tegar dengan penyakit diabet dan hipertensi yang mengharuskannya meminum 4 jenis obat rutin, kali ini ketegaran itu hancur dengan kedua matanya yang kabur.

Aku yang notabene dokter umum pun tak bisa berbuat banyak, hanya kusarankan mbah istighfar yang banyak, kita ke dokter mata ya secepatnya. Katarak dan Diabetes memang bukan kombinasi yang baik, diabetes memperparah proses penyembuhan katarak. Ketika operasi pada mata satu kurang berhasil, riskan untuk operasi mata lainnya. Jelas emosi terkuras,”Bagaimana jika tidak berhasil lagi? Bagaimana kalau tidak bisa melihat lagi?”. Pemikiran seperti itu saja sudah membuat bergidik.

Tahap demi tahap mbah diuji dengan penglihatan kaburnya semakin membuatku sadar dengan betapa besarnya nikmat penglihatan ini. Kejadian didepanku serasa menamparku yang masih belum mempergunakan mata ini dengan baik. Rasanya ingin tiap detik dihabiskan untuk melihat yang bermanfaat, baca dan menghafal al-Qur’an, mengkhatamkan buku bacaan di rumah. Ingin rasanya tidak berlebihan tidur, tidak menonton tivi, tidak melihat hal-hal yang membuat panjang angan-angan. Semua ingin kulakukan sebelum nikmat penglihatan ini diambil kembali oleh Sang Pemilik.

Kadang aku merasa nikmat ini belum sesempurna orang lain yang berpenglihatan normal. Mataku high myop dan cylinder, membuatnya terlihat sedikit strabismus.  Resiko ablatio retina lebih besar, terlebih saat mengejan jika melahirkan normal, sehingga orang yang sepertiku biasanya disarankan untuk operasi caesar jika melahirkan. Aku tak dapat melihat jelas tanpa kacamata. Suatu saat aku merasakan ketakutan saat kacamata itu tak dapat kutemukan. Kecemasan yang mengerikan walau terjadi hanya sesaat.

Sungguh, itu tidak ada apa-apanya dengan yang dirasakan mbah. Walaupun mbah selama 62 tahunnya dapat menglihat jelas, ternyata ia pun begitu terpukul ketika penglihatan itu mulai menghilang.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
(QS Al Baqarah : 286)

Allah memilih mbah karena mbah mampu, dan semoga mbah sadar sepenuhnya hal itu. Dan bagi diriku yang masih memiliki penglihatan jelas, tidak ada lagi alasan, mata ini harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk sesuatu yang bermanfaat.

Catatan untuk diriku,
Di balik meja poli, saat jaga malam
21.05.16 , 00.35

Friday, May 6, 2016

Berbagi Kebahagiaan Menjelang Ramadhan




Mengajak teman dan saudara di Balikpapan untuk berbagi kebahagiaan menjelang Ramadhan bersama anak panti. InsyaAllah saya akan berkunjung ke Panti Asuhan di Balikpapan sebelum Ramadhan, untuk memberikan bantuan uang dan makan siang pada hari itu.

Bagi yang mau ikut untuk menyumbang uang dapat mengumpulkan (secara tunai atau transfer) ke saya. Sebagai gantinya (atau ucapan terima kasih saya bagi yang menyumbang), yang mau :
-          Pemeriksaan gula/asam urat/kolesterol, boleh
-          Pinjem buku Islam, monggo
-          Konsultasi kesehatan, dipersilahkan

Nah, yang mau pahala dari Allah, boleh banget, tapi mintanya sama Allah yaa, saya fasilitasi dengan mengumpulkan uang dan menyalurkannya

Setelah kunjungan, insyaAllah foto kegiatan akan saya bagikan, sebagai bukti pertanggungjawaban.
Info lebih lanjut hubungi Jofan Viradella 081.233.898.414

Itulah BC yang saya bagikan ke teman-teman di Balikpapan. Membingungkan ya? Wajar, saya memang mbingungi orangnya, hehe. Saya jelaskan pelan-pelan yaa...

Apa sih maksudnya?
Kegiatan di atas murni dari keinginan pribadi, bukan melalui lembagai / yang lainnya. Tujuan ingin memberikan sumbangan uang dan hadiah makan siang pada anak panti asuhan. Dan mengambil momen sebelum Ramadhan, agar lebih terasah dan terlatih melakukan kebaikan sebelum datang Ramadhan

Kenapa tidak melalui lembaga resmi saja?
Jelas, lembaga resmi punya program sejenis, hanya saja, saya ingin mendatangi langsung panti tersebut, melihat anak-anaknya, membelai rambutnya (kalau masih kecil sih, alias belum baligh, hehe). Sesuai hadist,
Jika kamu ingin melembutkan hatimu,maka  berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim..(Hadist Hasan, riwayat Ahmad dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Kenapa pake ngajak-ngajak? Pake dana sendiri aja bisa kan?
Jelas bisa, hanya saja kalau hanya dari kantong saya, jelas yang terkumpul tidak banyak (jujur banget ya, hehe). Oleh karena itu, saya mengajak teman-teman untuk ikut.

Trus, apa maksudnya sebagai ganti bisa periksa gula dkk?
Saya hanya dokter umum yang suka ngumpulin dan (kalau sempat) baca buku. Jadi yang bisa saya tawarkan sebagai ganti teman-teman ikut menyumbang adalah pemeriksaan gula darah atau asam urat atau kolesterol.  Mungkin teman-teman/orang tuanya ingin memeriksakan hal itu. Tentunya dengan konfirmasi, karena saya perlu mempersiapkan stik nya.

Nah, untuk buku, di rumah saya ada tumpukan buku (baik yang sudah terbaca maupun belum) yang mungkin teman-teman minat baca, saya rela pinjamkan untuk dibaca. Untuk judul buku, bisa tanyakan ke saya, sudah saya buat daftar judul bukunya.

Sedang untuk konsultasi kesehatan, saya membantu semaksimal yang saya bisa. Kalau tidak bisa, mohon tunggu untuk saya tanyakan kepada yang lebih ahli (hehe)

Terakhir yang ingin pahala dari Allah, jelas boleh banget, tapi mintanya sama Allah, saya hanya membantu menfasilitasi. Semoga Allah memudahkan kita untuk berbuat kebaikan.

Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia akan berkata,”Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata,”Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS Al Fajr : 15-20)

Ya Allah, maafkanlah kami, mudahkan kami memuliakan anak yatim dan mengajak memberi makan orang miskin..

Tuesday, April 26, 2016

My Q Map Training Balikpapan



Awalnya aku tertarik mengikuti pelatihan ini setelah beberapa kali mendengar iklannya di radio IDC FM. Diajarkan teknik cepat menghafal Al-Qur’an 1 juz/bulan, dapat menghafal secara acak, mundur. Wow! Menggiurkan sekali tawarannya, secara 25 tahunku berlalu tanpa khatam hafalan juz 30. Akhirnya aku bulatkan niat untuk ikut pelatihan ini, investasi 800 rb rupiah untuk 2 hari (seharusnya pelatihan 3 hari 975 ribu, namun jumat tidak memungkinkan hadir karena pekerjaan) insyaAllah sebanding dengan manfaatnya (sedikit merasa bersalah kalau merasa mahal, secara pelatihan kedokteran pun standar 2-3 hari di kisaran 2-3.5 juta, cukup nyekek dompet!).
 
Dari investasi ini kita dapat full day training, jam 08-17, materi tentang 10 rahasia menghafal al-Qur’an, sesi training menghafal cepat 2 surat pilihan (at Takwir dan al Qiyamah), buku my Q map (my Quran map) juz 30. Panitia dari Islamic Global School juga menyiapkan berbagai doorprice , untuk penjawab soal, pemenang kuis, serta pendaftar awal. Oiya, informasi tak kalah penting, training diisi oleh bu Hj. Dhini Widyawati, MNLP ,CH., CHt. CI - Master of Practitioner of NLP, Mind Mapping - Fonder and Master Trainer My Q-Map dan ustadz Ambya Abu Fathin , Author, Master Trainer, Director of Metode Al-Bana

 

Sabtu pagi jam 08.00 aku berangkat ke hotel Zurich dan mengambil tempat duduk paling depan, biar malu sendiri kalau sampai mengantuk. Materi tentang 10 rahasia menghafal al-Qur’an dilanjutkan poin ke 7-10, sedang poin 1-6 sudah diberikan sehari yang lalu. Apa saja poinnya? Hmm, boleh dibocorin ga ya? Hehe. InsyaAllah untuk kebaikan ga pa ya?

Yang paling pertama adalah tujuan. Tanyakan pada diri sendiri : Apa tujuan menghafal al-Qur’an? Luruskan niat sejak awal. Yang kedua adalah makna. Akan jauh lebih mudah menghafal sesuatu yang kita paham, oleh karena itu awali hafalan al-Qur’an dengan mengetahui arti/maknanya terlebih dahulu. Selanjutnya adalah hubungan, atau cantolan hafalan. Kita perlu menggunakan/menstimulasi banyak indra kita, mengikat hafalan dengan gambar, menulis kata kunci, mengeraskan suara ketika menghafal. Rahasia lainnya? Boleh ditanya lebih lanjut ke trainer ^^ (atau ke penulis, dengan senang hati berbagi)

Yang berbeda dengan pelatihan lainnya, kita mendapatkan visualisasi dari surat yang kita hafal, saat hafalan surat at-Takwir kita diperlihatkan video tentang gambaran meteor menabrak bumi, membuat gunung terlepas dan seakan berjalan, laut mendidih dan kering. Terasa sangat nyata, jadi membayangkan bagaimana reaksi sahabat saat mendengar Rasulullah membacakan ayat ini, pasti terguncang dan takut akan gambaran Kiamat ini. Visualisasi, gambar kunci, kata kunci, suara keras, semua akan saling mendukung untuk menguatkan hafalan

Hari kedua lebih menguras emosi, diawali dengan saling mendoakan teman yang ada di ruang tersebut, “Semoga dimudahkan menjadi penghafal Qur’an, dan dapat menshalihkan keluarga. Semoga kita dikumpulkan di syurga nanti, dan cari aku ya ketika tak ada, selamatkan dari neraka menuju syurga..” Tetesan air mata pun tak bisa dibendung, bahkan oleh penulis yang apatis dan susah mengungkapkan emosi ini. Setelahnya dilanjutkan sedikit materi tentang cara mengontrol emosi, menyetel suasana hati ketika akan menghafal. Training hafalan surat yang kedua yakni al Qiyamah dimulai setelah itu.

Sesi ini tidak aku ikuti karena diminta untuk memberi testimoni tentang training ini di acara talkshow yang disiarkan radio IDC FM masjid Istiqomah. Satu kata dari bu Dhini yang aku bagikan pada pendengar, yang juga merupakan pukulan keras bagiku,”Ujian terberat bagi penghafal qur’an ini adalah berhenti menghafal karena takut diuji.” Ya, bahkan sebelum menjadi penghafal pun perasaan takut diuji itu sudah muncul. Oleh karena itu, perlu sekali setelah pelatihan, ada komunitas yang bisa saling menguatkan.

Sedikit cerita dari bu Dhini, beliau mulai mengembangkan my Q map dalam setahun terakhir dan berhasil menyelesaikan 6-7 juz, kemudian proses itu terkendala. Mata kiri beliau, mengalami ablatio retina (retina terlepas dari perlekatannya di bola mata disebabkan—salah satunya—minus tinggi) dan telah dioperasi 3 kali. Itulah sedikit ujian yang beliau ceritakan, dengan satu energi penyemangat,”Ya Allah, kalau memang ini yang perlu dijalani untuk menjadi ahlul Qur’an dan menjadi keluargamu di dunia, saya ikhlas.” MasyaAllah..

Sekarang di rumah beliau, ada pondok tahfidz dimana bermukim 15 orang penghafal al-Qur’an dan lebih dari 100 yang nonmukim. Beliau juga menerima permintaan training di berbagai wilayah di Indonesia, murni untuk jariyah, biaya yang dichargekan pada peserta adalah untuk kepentingan akomodasi trainer dan cetak buku. Bagaimana dengan operasional pondok? InsyaAllah semua ada jalannya, Allah menitipkan 15 penghafal al-Qur’an, maka Allah pula lah yang menjaga dan menjamin rezeki mereka. Begitulah keyakinan orang yang dalam dadanya telah tercelup al-Qur’an.

Di pelatihan ini, aku dapat satu keluarga yang ikut, mulai dari ayah dan 2 anaknya (wow). Membayangkan tidak sedikit yang perlu dikeluarkan, tapi mereka pasti yakin akan ganti yang lebih baik dari Allah. Ada pula mba Amelia dari Bontang, teman sebangku-ku hari Sabtu. Saat kutanya,”Mba jauh-jauh dari Bontang demi pelatihan ini? Nginap hotel? Biaya travel? ” dengan entengnya ia menjawab,”Daripada pelatihan di Jawa?” Wah, masya Allah para pemburu ilmu Allah ini, menciut aku dihadapan mereka.

Satu doa terakhirku, setelah mengikuti pelatihan dan setelah menulis artikel ini,”ya Allah, dekatkan aku dengan orang-orang shalih ini, walaupun diri belum menjadi sebaik mereka, minimal cipratan ridho-Mu terhadap mereka dapat kucicipi.”

Wednesday, March 30, 2016

Program Favorit di NatGeo

National Geographic telah menjadi salah satu channel tv farovitku yang paling banyak memiliki A program. Apa itu A program? Sebutanku sendiri untuk program tv yang paling aku tunggu untuk dilihat, dan aku cari siaran ulangnya dalam minggu itu kalau aku ga berhasil nonton episode awal.

Dan sekarang, dengan senang hati aku bagi A program itu, semoga lain kesempatan dapat aku bagikan detail acaranya.

1. Brain Games
Acara yang dipandu Jason Silva ini hampir selalu membuatku tercegang dengan games-gamesnya yang memutar otak, dan membuat sadar betapa hebatnya otak kita, serta betapa kita (bisa ditipu) otak kita. Betapa otak begitu sempurna penciptaannya sehingga menjadi reseptor segala macam bahasa saat kita kecil, begitu 'elastis' sehingga kita mudah beradaptasi terhadap hal baru, begitu 'nakal' sampai bisa membuat asumsi terhadap seseorang hanya dalam beberapa detik dan terkadang hal tersebut tidak benar. Wajib tonton untuk tahu betapa kerennya salah satu ciptaan Allah, yaitu otak manusia

2. Air Crash Investigation
Ini adalah reka ulang kecelakan pesawat sekaligus investigasinya. Yang paling membuatku kagum adalah investigasi rumit yang akhirnya membuahkan kesimpulan yang bermanfaat. Kenapa bermanfaat? Karena pasti ada sesuatu yang baru yang direkomendasikan agar tidak terjadi kesalahan berulang. Aku bahkan mencatat poin penting selama menonton. Dari 12 episode season 1, episode favoritku adalah episode akhir, saat kru kokpit berhasil 'mengendalikan' pesawat yang mengalami kebakaran mesin dan mendaratkannya dengan selamat. Ini membesarkan hatiku bahwa banyak pilot handal yang dengan dedikasi tinggi (dan juga ilmu) menerbangkan penumpang sepenuh hati

3. 24 Hours in A & E
Ini tentang penanganan pasien di ruang emergensi rumah sakit King's College Inggris. Mungkin karena profesiku sebagai tenaga medis yang menjadikanku ini acara favorit. Yang aku kagumi adalah bagaimana tenaga medis disana menangani pasien dengan ramah, edukatif, serta kerjasama antar tenaga medis yang kompak. Mereka akan menjelaskan di awal prosedur penanganan dengan sejelas-jelasnya, tidak ragu memberitahu ketika mereka memang belum mengetahui diagnosa pasien, serta penanganan proses rujukan yang oke, tanpa ada saling menyalahkan antara petugas yang merujuk dan petugas penerima rujukan.

Untuk saat ini, itu list acara wajib tonton versiku. Ada juga program B, akan kutonton saat ada kesempatan, tapi bukan sesuatu yang akan kutunggu-tunggu. Contohnya, Natgeo Origin, Ultimate Survival Alaska. Semoga lain kali dapat juga kubagi.
 
Copyright (c) 2010 dellasgarden. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.