Monday, September 5, 2016

Seminar Parenting Nabawiyah (Day 1 Part 2)



Berikut lanjutan artikel sebelumnya. Bagi yang belum membaca silakan mampir ke sini

Keselarasan antara Rumah dan Sekolah



Mengapa dari sirah nabi, yang dipilih oleh ust Budi Ashari dan tim Parenting Nabawiyah adalah 2 konsep krusial yakni pendidikan dan parenting? Karena di dua hal inilah yang sangat menjadi perhatian oleh musuh Islam, dan menjadi sumber kerusakan generasi.

Lihat siapa rujukan selama ini dalam dunia parenting dan pendidikan ataupun psikologi? Montessory, Pavlov, novel Emil, dsb >> padahal dari mereka ada yang keluarganya gagal, punya penyimpangan seksual, dll >> tidak heran bila kemudian generasi yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan. Fenomena lain saat ini. Nabi dijadikan “stempel” >> menggunakan konsep dari Barat, kemudian dicari ayat Al Qur’an dan Hadist yang sesuai.

Bandingkan konsep Islam dengan teori pendidikan saat ini, contoh : 20 karakter baik anak yaitu ingin tahu, jujur, tanggung jawab, disiplin, peduli, dsb. Di Islam, jauh lebih baik dari itu. Ibroh : Islam telah mengajarkan semua, termasuk pendidikan.

Cerita Kuttab al Fatih :

  • -          1 kelas terdiri dari 12 santri dengan 2 guru, 1 guru iman, 1 guru qur’an.
  • -          Membangun wibawa guru. Murid perlu menghormati guru. Fenomena saat ini banyak anak orang kaya yang merasa lebih berkuasa dibandingkan ayahnya, padahal itu semua harta ayahnya.
  • -          Sekolah >> lembaga yang membantu pendidikan orang tua di rumah, bukan sebaliknya. Rumah >> lembaga pendidikan pertama. Di kuttab, ada program BBO Belajar Bareng Ortu, siswa diberi pekerjaan rumah, orang tua juga diberi panduan.


Pendidikan : mencari momentum dan membangun suasana yang enak untuk memasukkan nilai Islam, cth. Ibnu Abbas diberi nasihat oleh Nabi di tunggangan menuju Madinah. Saya (ust Arief) menggunakan momentum antar anak sekolah sebagai kesempatan ngobrol berdua dengan anak.

Membangun Generasi Penakluk Roma. Hadist nabi bahwa Konstantinopel dan Roma akan takluk pada Islam. Konstantinopel telah jatuh 857H/1453M, kapan giliran Roma? Didik anak kita menjadi orang besar yang kelak menjadi/melahirkan keturunan yang akan menaklukan Roma.

Pilar utama pendidikan : Rumah! Anak bisa belajar dari mana saja, sekolah, jalan, masyarakat, tapi yang paling kuat memberikan makna adalah di keluarga. Penelitian tentang siapa yang paling berpengaruh pada anak menampakkan hasil à pengaruh sekolah 20%, lingkungan 20%, rumah 60%.

Lalu kenapa saat ini banyak ortu mengeluh,”Anak saya nakal, karena di sekolahnya berteman dengan.., karena lingkungannya...” >> Padahal seharusnya rumah-lah yang punya pengaruh paling besar. Jawabannya >> karena orang tua tidak utuh mengambil peran 60%.  Bagaimana dapat mengambil peran utuh ketika ibu keluar bada subuh pulang bada isya?

Ketiadaan ortu di rumah memberikan efek dahsyat (dalam arti tidak baik). Salah satu kisah dari ust. Arief. Saat baru pindah rumah, ada anak tetangga yang main dirumah. Anak ini usia sekitar 4 tahun , orangtuanya sama-sama bekerja. Saat meminta minum,dia bilang ke istri saya,”eh, eh, eh, aku mau minum dong, ambil.” Istri saya hanya melongo dan menjawab,”Kamu ngomong apa nak?” yang kemudian pelan-pelan ia diajarkan,”Umi, saya haus, minta tolong ambil minum.” Kemudian, ia sering datang ke rumah dan suatu hari dengan polosnya bertanya pada saya,”Abi, abi mau ga jadi abi aku?” >> pertanyaan polos dari seorang anak yang “kehilangan” sosok orang tua di rumahnya. Jangan sampai anak kehilangan sosok orang tua

Gadget >> jauhkan ini dari anak. Orang tua ada yang bertanya pada saya,”Ustadz, gimana ini anak saya kecanduan gadget?”. Saya jawab,”Dulu tanya ke ustadz ga pas pengen kasi gadget ke anak?” “Gak ustadz.” “Kalau dulu ga tanya ustadz boleh ga kasi gadget ke anak, Lalu kenapa sekarang saat ada masalah baru bertanya?” >> Mengapa ustadz dilibatkan saat sudah terjadi masalah, saat seharusnya kita bisa bertanya dulu sebelum masalah itu muncul.

Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanya yang membuat ia yahudi, nasrani, majusi. Fitrah anak >> Islam. 7 : 172. Maka seharusnya mudah mendidik anak dalam kebaikan karena memang sesuai fitrah, lalu kenapa yang terjadi sebaliknya? Ayah Bunda, jika kita punya keterbatasan ilmu dan kesholihan, jika tidak bisa menambah kebaikan anak, minimal jangan merusak fitrah itu. Apa saja hal di rumah yang berpotensi untuk merusak fitrah anak >> mulailah untuk meniadakan.

Konsep Islam itu sempurna. Saat nabi mengatakan usia, maka usia itu adalah patokan penting. Cth. suruh solat usia 7 tahun, pukul (jika tidak mau sholat) usia 10 tahun. Kenapa 7 tahun? Ini usia dimana fitrahnya keluar, anak sedang sangat bersemangat dan dekat dengan Rabbnya, ia akan banyak bertanya tentang tauhid.

Kejadian unik. Salah satu ortu anak di kuttab tanya,”Ustadz, anak saya diajarin apa, koq bilang aku mau mati?” Ternyata awalnya, di kelas diajarkan bahwa Allah Maha Pemurah dan Penyayang. Anak ini merasa Allah itu baik banget, dia punya orang tua yang baik, guru yang baik. Sampai muncul kata,”Aku pengen ketemu Allah” “Bagaimana cara ketemu Allah”,ia bertanya pada guru. “Belum bisa ketemu sekarang, nanti bertemu setelah mati.” Sampai akhirnya ia bilang ke ortunya seperti itu. Layaknya kita ketika diberi pemberian yang baik oleh orang, tentu ingin sekali bertemu orang itu dan mengucap terima kasih >> Ibrah, saat usia itu, anak sedang menggebu untuk dekat dengan Rabbnya

Potret pendidikan saat ini (1): sekolah jauh dari masjid, padahal masjid adalah setra peradaban. Yang dibangun pertama kali oleh nabi di Madinah >> masjid. Mengapa saat ini berbeda? Karena masjid belum dijadikan sentra. Rasa ‘diimami’ di masjid juga hilang. Kadang berkesan bahwa ketua dkm lebih berpengaruh dibanding imam masjid (upz). Di Arab, iqomat dikumandangkan saat imam masuk masjid. Dulu, Bilal baru akan iqomat ketika Rasul masuk masjid dan memerintahkan. Lihat ibrohnya? Imam masjid >> ia lah yang mengatur. Pilih imam yang hafidz, berilmu >> sehingga ketika ada permasalahan di umat, imam masjidlah yang menjadi rujukan >> ada rasa ‘diimami’

Potret pendidikan saat ini (2): sekolah teori tanpa praktek >> mengajarkan kurikulum bukan berdasar keimanan. Praktik agama SMA >> sholat. Apakah selama ini sholatnya siswa tidak dipercaya? Lalu, untuk soal tulis : solat berapa rakaat, tata cara seperti apa, dsb siswa dapat nilai 100, tapi bagaimana dengan praktiknya? Apa mereka segera sholat ketika mendengar adzan, apa mereka paham kenapa harus sholat?

Solusi : Sekolah harus mendekatkan hubungan dengan rumah. Cerita kuttab. Ada program untuk menilai jiwa amanah pada anak. Anak diberi uang 5000 seri sekian oleh ustadz, kemudian diminta untuk menyimpan selama seminggu lalu kemudian dikembalikan, dan tidak boleh memberitahu ke siapapun. Lalu ustadz akan memberi tahu ortu kalau anaknya diberi uang 5000 seri sekian dan ortu diminta untuk menanyakan. Ketika ortu tanya,”Dititipin apa sama ustadz?” “Ga da dititip apa-apa koq” dan kemudian anak berhasil mengembalikan uang itu pada ustadznya >> berarti ia berhasil menyelesaikan tugas dan mulai memiliki jiwa amanah.

Nasihat untuk ortu : jangan sampai urusan hafalan al fatihah dan juz 30 anak kita diserahkan ke guru >> ini adalah amal jariyah orang tua, apa rela orang lain yang mengambilnya?

Perlukah guru/les tambahan? “Hanya untuk anak-anak yang lemah dan orang tua yang tidak mengerti” (pendapat Khalid Asy Syantut-Pakar Pendidikan Islam). Bukan tidak membolehkan menjadi guru les, tapi ada adab ilmu yang tidak tercapai disana. Guru les privat datang ke rumah >> padahal salah satu adab ilmu adalah didatangi, bukan mendatangi.

Unik. Saat itu ust Budi bertanya pada orang yang punya banyak usaha les,”untuk dapat ijazah SD berapa lama waktu yang dibutuhkan?” “Cukup 3-6 bulan, nanti program belajarnya bla bla bla.” >> lalu apa yang dipelajari selama 6 tahun? Cerita kuttab (setaraf SD). Anak diajar untuk menghafal al Qur’an 7 juz, kemudian menjelang ujian nasional, 3-6 sebelumnya baru akan ada program khusus untuk UN. Di madrasah (setaraf SMP SMA). Tahun pertama anak diajar untuk menghafal 23 juz selanjutnya, kemudian menghafal 1600 hadist kitab Bulughul Maram. Seperti ulama terdahulu >> kaidah ilmu adalah dihafal. Output yang diharapkan à mereka akan siap menikah diusia dini >> karena mereka telah baligh

Libur sekolah bukan tidur dan bermain saja. Jangan sampai kontra produktif. Mendidik anak sejatinya memberi nilai yang lebih baik untuk kehidupan dunia dan akhiratnya. Saat anak panas sampai 39 C ortu akan panik. Bagaimana jika melihat anak terancam kondisinya (dekat api neraka) di akhirat nanti? Tentu lebih panik >> Ibroh : jangan mudah “merasa kasihan” dan putus asa untuk sebuah kebaikan.

Agenda libur. Boleh nambah waktu tidur (tapi sedikit). Hindari waktu tidur yang makruh (bada subuh, bada ashar). Tiru tidur nabi : tidur awal, bangun awal. Tidur sebentar sebelum dhuhur. Tidur antara adzan pertama dan adzan kedua sholat subuh (jarak adzan pertama dan kedua sekitar 50 ayat)

Agenda libur. Boleh nambah waktu main (tapi sedikit). Ga semua anak suka main. Nabi Yahya : dan bukan untuk bermain aku diciptakan. Imam Nawawi : saat kecil ia sudah senang baca buku dan ikut kajian ulama.

Agenda libur. Tambahan kegiatan bermanfaat. Balita >> beri dialog iman. Baligh >> berikan masalah, agar ia punya kesadaran dan tanggung jawab memperbaiki masyarakat. Cerita kuttab. Liburan ada program hafalan ayat dan hadist tentang berbakti pada ortu. Jurnal harian sudah membantu ortu apa saja, dsb.

Pelajaran dari Nabi. Jika menyebut angka >> berarti penting. Jika tidak menyebut angka >> perhatikan tanda-tandanya. Cth. Islam membagi usia menjadi 2 : belum baligh dan sudah baligh. Maka tak ada fase remaja (baca : labil, pemberontak, konotasi negatif lain) dalam Islam. Jangan jadikan pembenaran,”Ah, dia kan masih remaja, mencari jati diri.” Berikan dialog ,”Nak, kamu sudah baligh.., .” >> menimbulkan efek tanggung jawab. Bukankah baligh mengandung arti : ia telah dijatuhi hukum taklif, menjadi mukallaf, dan punya tanggung jawab yang sama dengan ortu?

Jadilah teladan. Urutan pertama saat kita ingin anak kita ahli tahajjud >> jadilah ortu yang ahli tahajjud. Ayah, jadilah model laki impian >> agar anak perempuan kelak bisa mendefinisikan suami idaman dengan standar minimal ayahnya.

Cerita kuttab. Pengambilan rapot oleh kedua ortu. Ini momen kepedulian ortu pada anak, sekaligus momen diskusi ortu dan guru.

Cerita kuttab. Di awal ada proses penyerahan cemeti dari ortu ke guru. Ini proses yang ditentang oleh teori pendidikan saat ini. Padahal ada contohnya, saat sultan memberi cemeti pada guru M. Al Fatih, dan berkata,”cambuklah ia ketika tidak mau diajar.” Apa yang dilakukan guru saat Al Fatih kecil berbuat sesukanya karena merasa ia anak sultan? >> cambukan dilakukan. Pelajaran awal penting bagi Al Fatih yang kemudian menjadikan ia penakluk Konstantinopel. Ayah Bunda saat ini boleh protes dan bicara apapun, namun jebolan dari metode itu adalah al Fatih.

Hukuman dalam Islam layaknya obat bagi si sakit. Jika tidak sakit ya tidak perlu di obati. Jika tidak nakal buat apa dihukum. Obat ada dosis, jika tidak mempan maka ditingkatkan. Begitupun hukuman, dimulai dengan yang kecil, kalau tidak mempan ya ditingkatkan. Kuttab tidak melakukan pendekatan pendidikan dengan hukuman, tapi hukuman juga jangan dihilangkan dari anak2.

Jangan pernah menjatuhkan wibawa guru didepan anak ! Atau akan terjadi kiamatnya dunia pendidikan. Lakukan proses tabayun. Jangan sampai saat anak mengomel,”Guru ini galak” ortu balas mengompori,”Iya, ibu tahu guru itu emang galak, nanti ibu kasitau ke gurumu.” Karena sekolah adalah yang paling mudah “mengambil alih” peran pendidik ketika orang tua “tidak berdaya” >> janganlah dirusak wibawanya , di saat untuk membantu pun ortu tidak bisa.

Cerita ust Arief. Kadang saya membolehkan anak menginap di rumah temannya, kemudian ia minta feedback dari ortu mereka >> untuk menilai kondisi anak

Bersambung InsyaAllah setelah ini diringkas yang Day 2. Semoga bermanfaat. Untuk mengetahui parenting nabawiyah lebih lanjut, bisa jalan-jalan ke web ini

 

Sunday, September 4, 2016

Seminar Parenting Nabawiyah (Day 1 Part 1)





Berikut adalah ringkasan diskusi dan catatan singkat dari seminar Parenting Nabawiyah di Hotel Sagita, 3-4 September 2016 yang dibawakan oleh 3 narasumber, ust Budi Ashari, Lc ; ust Achmad Arief ; Poppy Yuditia, M.B.A.

Sebelum membaca lebih lanjut ringkasan dibawah, ada hal yang patut diketahui :
  • -          Sebagian besar catatan dibawah adalah omongan dari pemateri yang tidak ada dalam slide, dan ditulis semampunya oleh saya à bisa jadi tidak runut atau urut antar paragraf
  • -          Ayat Al Quran hanya saya tulis nomor surat dan nomor ayat, silakan mencari dan membaca terjemahnya sendiri
  • -          Hadist dan kisah ditulis singkat, silakan mencari redaksi utuhnya
  • -          Untuk soft file power point silakan hubungi saya insyaAllah akan dikirim via email

Kembali ke topik Parenting Nabawiyah, Ada 6 materi yang dibawakan kali ini,
  • -          Al Qur’an dan sosok Muhammad sebagai Rujukan Dunia Parenting (ust Budi Ashari, Lc)
  • -          Harmonisasi Suami Istri (ust Achmad Arief)
  • -          Keselarasan antara Rumah dan Sekolah (ust Achmad Arief)
  • -          Pembelajaran dari Masa Hamil, Melahirkan, Menyusui dan Menyapih (Poppy Yuditia, M.B.A.)
  • -          Peranmu Surgamu (Poppy Yuditia, M.B.A.)
  • -          Perbedaan Mendidik Anak Laki-laki dan Perempuan (ust Budi Ashari, Lc)

Al Qur’an dan sosok Muhammad sebagai Rujukan Dunia

Manusia selalu butuh rujukan. Penelitian hanya menguatkan, rujukan dan landasan utama adalah Al Qur’an. Jangan jadikan penelitian sebagai rujukan, karena ia bersifat dinamis dan selalu berubah.

Standar berdasar penelitian? Tahun 1993 penelitian mengemukakan musik mozart meningkatkan kemampuan otak. 15 tahun kemudian, penelitian lain membantah hal itu dan menyimpulkan bahwa tidak ada stimulus yang mendorong peningkatan kemampuan saat mendengar musik mozart. See? Penelitian bersifat dinamis dan selalu berubah.

Untuk musik sendiri, ada pembahasan khusus terkait itu, tapi coba kita dengarkan salah satu pendapat , yaitu dari Mishary Rasyd,”Saya punya keberatan dalam hati untuk mengharamkan musik, tapi telinga saya tidak mendengarkan musik.”

Mana yang benar menurut anda? Hati-hati, jangan mengikuti kebanyakan orang. Al Qur’an dan Sunnah adalah rujukan final bagi mereka yang mengaku beriman pada Allah swt. Al Qur’an terbuka untuk diteliti, terbukti pula secara empirik, selama >1500 tahun, tidak ada satupun penelitian yang dapat membuktikan ada kesalahan pada Al Qur’an! (dan tidak akan pernah ada)

Lihat contoh dan ikuti. 3 : 31. Jangan terkungkung dengan kata “modern” dan “beda zaman”, selesaikan kasus hari ini , dengan cara yang dicontohkan Rasul, dengan kaidah-kaidah yang ada. “Ustadz, sekarang ada narkoba, dulu ga ada.” “Narkoba, khamr, efeknya sama : mabok, maka lihat bagaimana kisah pelarangan khamr dulu. Kalau mau jujur, orang Arab lebih ‘gila mabok’, ga mudah lepas dari khamr, namun lihat, ketika telah final turun ayat al Qur’an tentang pelarangan khamr, maka Madinah pun (baca : padang pasir) banjir khamr sampai dengan telapak kaki.”

Maka, ikutilah manusia terbaik, yang sudah mendapat stempel dari 3 sisi! Dari langit, “dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Dari beliau sendiri,”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” Dan dari tempat paling tersembunyi, dari istri beliau,”Seperti itulah akhlak Rasulullah saw, seperti Al Qur’an”. Dan perkataan mana yang paling jujur selain dari orang terdekat?

Kebanyakan dari kita, sudah belajar ilmu parenting ke baanyak sumber, ke seemua tempat, ke baanyak orang, kecuali ke Rasulullah. Maka sekarang, cukupkanlah Rasulullah sebagai contoh, ikuti teladan terbaik.

Harmonisasi Suami Istri

Tiru komunikasi rasul dengan istrinya. Tidak semua masalah diselesaikan secara verbal. Banyak komunikasi nonverbal yang dilakukan rasul, melalui parfum, panggilan yang berbeda, dsb.

Tugas besar ayah. 66:6. Jaga diri dan keluarga dari api neraka. Jangan sampai ada amalan ahli neraka di keluarga kita. Pelajari tentang halal dan haram. Bagaimana cara melepaskan diri dari riba.

Jadilah lelaki setegar pilar. 4:34. Lelaki tangguh. Qowwam. Mempunyai kelebihan di 2 poin yakni 1. Ilmu dan kesholihan 2. Nafkah >> menafkahkah sebagian hartanya. Terkait poin 1, ust Budi’s quote : Kalau para ayah sudah bangga dengan hanya bawa uang pada keluarga, maka Dompet Dhuafa lebih mampu untuk memberi makan anak-anak mereka. Jangan berikan “cek kosong” pada istri >> “terserah deh anak mau sekolah dimana”

Ilmu dan kesholihan itu penting. Khalifah Umar bin Abdul Azis rutin di tiap Jumat memurajaah hafalan ke-17 anak-anaknya  >> Bagaimana dengan kita? Apakah para ayah sesibuk khalifah? Apakah anaknya sebanyak anak khalifah? Umar bin Khaththab berpesan ajarilah istri kalian surat an Nur >> Maka sudah sewajarnya para suami paham terlebih dahulu, kemudian mengajarkan.

Terkait poin 2. Menafkahkan sebagian hartanya. Maka sudah sewajarnya suami tidak memberikan semua harta pada istri. Abdullah bin Abbas berkata Lelaki bodoh yang menyerahkan semua harta pada istrinya. Muncul pertanyaan“Berarti, suami tidak percaya pada istri kalau istri bisa kelola?” Pertanyaan kemudian dibalik,”Berarti istri tidak percaya pada suami selaku pemimpin?”

Jangan tiru harmonisasi ala Abu Lahab. Awalnya, Muhammad adalah ponakan yang paling dicinta Abu Lahab. Buktinya? Saat budak Abu Lahab memberitakan tentang kelahiran Muhammad padanya, maka ia membebaskan budak tersebut karena kabar gembira yang ia bawakan. Namun, hidayah Allah tak datang padanya. Abu Lahab kemudian menentang dakwah Rasul. Ia bersama istrinya bekerja dalam ‘harmoni’ mengganggu Rasul.

Kesedihan Asiyah. Salah satu dari 4 wanita terbaik. Istri dari Penguasa, tinggal di istana, namun apa yang ia minta? 66:11. Meminta dibangunkan rumah di surga, karena tanpa harmonisasi istananya saat itu tak pernah layak disebut rumah.

Goyahnya Harmoni. 66:10. Khianatnya istri Nabi Nuh dan Luth. Khianatnya istri nabi ini bukan selingkuh, namun ia khianat terhadap syariat yang dibawah oleh suaminya. Dan yang menjadi korban adalah anaknya, salah seorang anak Nabi Nuh adalah orang yang tidak selamat. Ibrah dari kisah Asiyah dan istri Nabi Nuh: ketika suami ‘error’ maka istri yang jadi korban. Ketika istri ‘error’ maka anak menjadi korban. Jangan jadikan kisah Nabi Nuh menjadi pembenaran “Lha anak nabi saja ada yang tidak sholeh koq.” >> karena itulah Nabi Nuh ditegur oleh Allah.

Mendidik adalah tugas ayah, anak butuh sapaan ayah. Kadang ayah merasa seperti Ibrahim yang dapat meninggalkan anak dalam waktu lama, tapi ia lupa menyiapkan istri laiknya Hajar. Potret Hajar >> potret istri dengan kedalaman aqidah.

Bahasa “kode”. Kisah Ibrahim-Ismail dan istrinya Ismail (ganti palang pintumu, pertahankan palang pintumu = ceraikan istrimu , pertahankan istrimu) . Tidak layak istri seorang nabi masih meributkan soal dunia, oleh karena itu Ibrahim meminta Ismail menceraikan istrinya yang awal.  Ibrah >> Kepahaman anak terhadap ayahnya walaupun hanya dengan bahasa “kode”. Ayah tetap berhak memberi nasehat pada anak walaupun anak sudah menikah.

Ibu, mempunyai peran luar biasa di masa awal pertumbuhan anak. Perhatikan amalan harian ibu, karena itu berpengaruh pada anak. Lihat yang mengasuh nabi (3 laki dan 6 perempuan), hanya 1/3 dari laki yang tidak beriman, dan 1/6 dari perempuan yang tidak beriman. Pelajaran : peluang ke-error-an wanita yang dibolehkan lebih sedikit. 3 laki dan 6 perempuan yang mengasuh nabi: Abdul Muthalib, Abu Thalib, suami Halimah --- Aminah, Halimah ibu susuan nabi, Syuaibah budak abu Lahab, Ummu Aiman, Syaimah putri Halimah

Kisah Maryam. Imron ayah Maryam meninggal saat Maryam lahir. Lalu peran ayah digantikan oleh pamannya, Zakaria. Ibrah : Allah tidak ridho anak yang menjadi salah satu dari 4 wanita terbaik ini tidak diasuh oleh ‘sosok’ ayah >> jangan sampai peran ayah hilang.

Allah menggunakan kata Qanitin untuk Maryam (padahal seharusnya Qanitat untuk perempuan, Qanitin adalah taat yang dinisbatkan untuk laki). Mengapa? Karena ketaatan Maryam setara dengan ketaatan laki (maksudnya ketaatan seorang nabi). Mengapa? Karena ia wanita yang menjaga kehormatannya, dan ia selalu membenarkan tiap perintah Tuhannya.

Selalu hidupkan dialog iman dengan anak, terutama usia < 5 tahun. Allah membuka lisan anak kita untuk bertanya agar kita dapat memasukkan nilai aqidah ke mereka. Ketika ada pertanyaan,”Kenapa matahari ga sebesar bulan?” Jawablah,”Begitulah Allah menciptakannya nak.”

DISKUSI

Barat menutup jalur kurikulum pendidikan >> ini yang parah. Anak tahu Marcopolo, tapi tidak tahu Ibnu Batutah, laksamana Cengho. Kita “terpesona” dengan kurikulum mereka. Kadang menganggap “kecil” kurikulum Islam, padahal Islam telah menguasai dunia 1400 tahun, kurang empirik apa lagi? Pendidikan Islam yang terbaik. Hanya kitalah yang terputus dengan generasi itu.

Visi keluarga muslim harus jelas. 66:6. Belajarlah dari keluarga yang disebutkan dalam Qur’an, baik itu karena kebaikan ataupun sebaliknya, yakni keluarga Ibrahim, Ali Imron, Abu Lahab, Fir’aun, Istri Nabi Nuh dan Luth

Sampai sejauh mana intervensi orang tua terhadap anak? Orang tua punya tanggung jawab mencarikan jodoh untuk anak yang bisa melanjutkan kesholihan yang telah dibangunnya. Lihat kembali kisah (Ibrahim-Ismail-Istri Ismail yang diminta cerai/dipertahankan) (Rasulullah-Aisyah-Abu Bakar sebagai orang ke-3 yang menjadi hakim antara mereka) (Rasulullah dan Istrinya setelah perang Khaibar)

Kapan diputuskan cerai? Jangan bicara cerai sebelum berbicara cara mendidik istri, berikan sentuhan iman. Saat Umar ditanya oleh salah seorang lelaki,”Bolehkah menceraikan istri karena sudah tidak cinta?” Lalu jawaban Umar,”Apakah pernikahan harus dibatalkan hanya karena tidak ada cinta? Lalu dimana jasa yang diberikan istrimu selama ini?” Istri – dapur sumur kasur (Lihat video Ibu, Pulanglah...oleh ust Budi Ashari, Lc)



Saturday, July 23, 2016

Al Manar Islamic Studies Institute - Sekilas Cerita



Al Manar adalah kampus yang didirikan oleh ustadz-ustadz yang mayoritas alumni universitas timur tengah yang berdomisili di Balikpapan sebagai wujud kepedulian terhadap dunia dakwah dan syiar Islam. Mengajarkan berbagai ilmu yang kita butuhkan dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim. 

Perkuliahannya terdiri dari 4 semester dengan mata kuliah seputar tauhid, fiqih, bahasa arab, tahsin dan lainnya. Rincian mengenai visi misi al Manar, mata kuliah yang diajarkan, ustadz yang menjadi pengajar, serta detail lain telah ada dalam brosur di bagian bawah artikel ini. Jadi untuk selanjutnya yang saya ceritakan adalah detail lain terkait al Manar versi saya ya.

Sebenarnya saya beberapa kali telah mendengar adanya al Manar, namun tidak mengetahui info pasti tentang perdaftaran, proses pembelajaran dan detail lainnya. Keinginan untuk menimba ilmu di al Manar baru terfollow up ketika ada mahasiswa al Manar di tempat saya bekerja. Jazakallahu khair untuk mas Arfan yang sudah berikan brosur al Manar kepada saya. 

Jadwal kuliah al Manar yang rutin di sabtu dan minggu siang Alhamdulillah tidak mengganggu jadwal kerja setelah dimodifikasi sedemikan rupa (hehe). Di brosur disebutkan bahwa perkuliahan adalah pukul 13.30-17.30, detailnya lagi, khusus untuk semester 1 dan 2, ada tambahan pelajaran bahasa Arab yang wajib diikuti, sehingga perkuliahan dimulai lebih awal yakni jam 13.00. Lebih tepatnya, jam 13.00-14.00 bahasa Arab, 14.00-15.30 makul pertama, 15.30-16.15 istirahat dan sholat ashar, 16.15-17.30 makul kedua. 

Berikut saya rincikan mata kuliah yang telah saya jalani, beserta ustadz yang mengajar dan buku yang dipakai 

Mata Kuliah
Pengajar
Buku
Semester 1
Bahasa Arab
Ust. Ismail Yahya Syah, Lc. Msi
Ustdz. Nurbaiti, Lc. MA
Al Arabiyah baina Yadaik
Fiqh Ibadah
Ust. Amrullah Abdul Karim, Lc
Tidak ada buku khusus. Beliau mengambil dari beberapa buku yang beliau punya.
Tahsin
Ust. Fakhrul Zaini, Lc
Tajwid Lengkap Asy Syafii terbitan Pustaka Imam as Syafii
Ulumul Qur’an
Ust. Nasrul Hamdi, Lc
Studi Ilmu-ilmu Al Quran karangan Manna Khalil al Qattan
Aqidah
Ust. Ahmad Shamdani, S.Fil.I
Tidak ada buku khusus. Namun saya pribadi (sekarang) membaca Kitab Tauhid karangan Syeikh dr Shalih bin Fauzan al Fauzan
Semester 2
Bahasa Arab
Ust. Ismail Yahya Syah, Lc. Msi
Ustdz. Nurbaiti, Lc. MA
Al Arabiyah baina Yadaik
Fiqh Muamalat
Ust. Amrullah Abdul Karim, Lc
Al Wajiz
Metode Studi Islam
Ust. Ismail Yahya Syah, Lc. Msi
Tidak ada buku khusus.
Sirah Nabi
Ust. Ali Jebran, Lc
Sirah Nabawiyah Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al Buthy
Ushul Fiqh
Ust. Fakhrul Zaini, Lc
Tidak ada buku khusus. Beliau mengambil dari buku yang beliau punya, kita mencatat apa yang diajarkan.





Beberapa Buku yang dipakai




Sedikit pendapat saya tentang beberapa mata kuliah di atas.

Bahasa Arab, pelajaran yang insyaAllah mudah jika dipelajari dengan tekun. Namun salah satu kendala saya adalah juarang sekali hadir di semester 2, sehingga saat ujian mulut tersenyum, tapi hati berteriak, “Huaa, andai bisa mengejar ketertinggalan!” InsyaAllah bisa dikejar dengan sedikit-sedikit mengerjakan latihan di buku, serta rajin membuka kamus Munawwir untuk mencari arti kata baru. Saya yakin 101% bakal remidi >_<

Fiqh Ibadah dan Fiqh Muamalah. Buku yang digunakan adalah al Wajiz, di dalamnya berisi dalil dari Quran dan Hadist terkait materi fiqh yang dibahas, cukup ringkas namun tidak ada salahnya menambahkan referensi dari buku lain agar lebih jelas dan mengerti poin-poin detailnya. Saya sendiri membuka sekilas Fiqih Sunnah karangan Sayyid Sabiq untuk mendapat versi detail dari materi yang dibahas.

Tahsin. Untuk mengetahui teori tahsin insyaAllah bisa dilakukan dalam 1 semester, tapi untuk praktik memperbaiki bacaan jujur saya rasa waktu yang dibutuhkan lebih lama dari itu karena butuh pembiasaan. Jadi saya anjurkan tidak hanya selesai belajar teori, tapi carilah guru untuk memperbaiki bacaan al-Qur’an.

Setelah rincian matkul, sekarang saya cerita tentang ujian. Ujian akhir semester adalah esai sekitar 3-5 soal, yang insyaAllah semua ada di buku ataupun kisi-kisi dan materi yang disampaikan. Soalnya boleh dibawa pulang dan masih tersimpan rapi dalam tas saya. (Silakan kontak saya jika membutuhkan, ga seru kalau saya share sekarang, kuliah aja belum, eh uda tau tipe soal ujian). Tips ujian, kerjakan sesuai perintah (so pasti lah, hehe). Perintahnya jawab 5 dari 6 pertanyaan, ya pilihlah 5 pertanyaan, jangan dijawab semua dengan maksud siapa tahu bisa nambah nilai kalau ada jawaban yang kurang. Tips kedua, jalani saja prosesnya, jika harus remidi ya diterima saja, toh jadinya lebih berilmu kan, dengan belajar untuk kedua kalinya (hehe)

Akhir kesimpulan, saya bagikan alasan saya belajar di al Manar :
1.       Karena ilmu dari ulama begitu berharga untuk disiakan. Dan seharusnya ilmu agama-lah yang diprioritaskan karena inilah ilmu yang kelak mengantar kita agar dapat selamat di kampung akhirat. (ini alasan kerennya)
2.       (alasan sebenarnya) Saya adalah tipe orang yang susah belajar tanpa dipaksa. Sengaja saya paksa diri untuk mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan, agar terpaksa ujian, sehingga (pasti) terpaksa belajar. Dan tidak salah kan jika awalnya memaksakan diri untuk sebuah kebaikan.
3.       Selain ilmu, kita akan bertemu sahabat baru, yang saya harapkan dapat menularkan kebaikannya pada saya (minimal mengingatkan untuk tidak sering-sering bolos kuliah). Bertemu sahabat baru, berinteraksi dengan berbagai karakter, mengajarkan tentang perbedaan dan bagaimana indahnya jika dapat serasi bersama menuju pribadi yang lebih baik.

Sedikit kata yang melecut semangat saya, dan saya tempel dalam kamar

Bila engkau tidak dapat menahan lelahnya belajar, engkau harus sanggup menahan perihnya kebodohan (Imam Syafi’i)

Abdurrahman bin Abu Hatim berkata,”Ilmu –agama- tidaklah bisa diraih dengan badan yang bersantai-santai

Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga (HR Muslim)

Dan kata-kata pada diri sendiri : 
Allah mencabut ilmu dari suatu kaum dengan mewafatkan para ulama. Teruslah menimba ilmu dari ulama selama masih ada kesempatan. Sibuknya engkau sama sekali bukan alasan, bukankah mereka jauh lebih sibuk? Lelahmu pun seharusnya bukan penghalang, bukankah mereka lebih lelah? Enam belas tahun rela kau habiskan menuntut ilmu dunia mulai sd, smp, sma, kuliah. Dan sekarang 48 jam seminggu kau gunakan untuk bekerja. Apakah meluangkan 8 jam dari 7 harimu pun tak bisa kau usahakan?

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi para penuntut ilmu. Sedikit hadis menjadi penutup,,
“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shohihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Duhai pribadi yang haus ilmu, apalagi yang kau tunggu?


 
 
Copyright (c) 2010 dellasgarden. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.