Friday, May 6, 2016

Berbagi Kebahagiaan Menjelang Ramadhan




Mengajak teman dan saudara di Balikpapan untuk berbagi kebahagiaan menjelang Ramadhan bersama anak panti. InsyaAllah saya akan berkunjung ke Panti Asuhan di Balikpapan sebelum Ramadhan, untuk memberikan bantuan uang dan makan siang pada hari itu.

Bagi yang mau ikut untuk menyumbang uang dapat mengumpulkan (secara tunai atau transfer) ke saya. Sebagai gantinya (atau ucapan terima kasih saya bagi yang menyumbang), yang mau :
-          Pemeriksaan gula/asam urat/kolesterol, boleh
-          Pinjem buku Islam, monggo
-          Konsultasi kesehatan, dipersilahkan

Nah, yang mau pahala dari Allah, boleh banget, tapi mintanya sama Allah yaa, saya fasilitasi dengan mengumpulkan uang dan menyalurkannya

Setelah kunjungan, insyaAllah foto kegiatan akan saya bagikan, sebagai bukti pertanggungjawaban.
Info lebih lanjut hubungi Jofan Viradella 081.233.898.414

Itulah BC yang saya bagikan ke teman-teman di Balikpapan. Membingungkan ya? Wajar, saya memang mbingungi orangnya, hehe. Saya jelaskan pelan-pelan yaa...

Apa sih maksudnya?
Kegiatan di atas murni dari keinginan pribadi, bukan melalui lembagai / yang lainnya. Tujuan ingin memberikan sumbangan uang dan hadiah makan siang pada anak panti asuhan. Dan mengambil momen sebelum Ramadhan, agar lebih terasah dan terlatih melakukan kebaikan sebelum datang Ramadhan

Kenapa tidak melalui lembaga resmi saja?
Jelas, lembaga resmi punya program sejenis, hanya saja, saya ingin mendatangi langsung panti tersebut, melihat anak-anaknya, membelai rambutnya (kalau masih kecil sih, alias belum baligh, hehe). Sesuai hadist,
Jika kamu ingin melembutkan hatimu,maka  berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim..(Hadist Hasan, riwayat Ahmad dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Kenapa pake ngajak-ngajak? Pake dana sendiri aja bisa kan?
Jelas bisa, hanya saja kalau hanya dari kantong saya, jelas yang terkumpul tidak banyak (jujur banget ya, hehe). Oleh karena itu, saya mengajak teman-teman untuk ikut.

Trus, apa maksudnya sebagai ganti bisa periksa gula dkk?
Saya hanya dokter umum yang suka ngumpulin dan (kalau sempat) baca buku. Jadi yang bisa saya tawarkan sebagai ganti teman-teman ikut menyumbang adalah pemeriksaan gula darah atau asam urat atau kolesterol.  Mungkin teman-teman/orang tuanya ingin memeriksakan hal itu. Tentunya dengan konfirmasi, karena saya perlu mempersiapkan stik nya.

Nah, untuk buku, di rumah saya ada tumpukan buku (baik yang sudah terbaca maupun belum) yang mungkin teman-teman minat baca, saya rela pinjamkan untuk dibaca. Untuk judul buku, bisa tanyakan ke saya, sudah saya buat daftar judul bukunya.

Sedang untuk konsultasi kesehatan, saya membantu semaksimal yang saya bisa. Kalau tidak bisa, mohon tunggu untuk saya tanyakan kepada yang lebih ahli (hehe)

Terakhir yang ingin pahala dari Allah, jelas boleh banget, tapi mintanya sama Allah, saya hanya membantu menfasilitasi. Semoga Allah memudahkan kita untuk berbuat kebaikan.

Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia akan berkata,”Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata,”Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS Al Fajr : 15-20)

Ya Allah, maafkanlah kami, mudahkan kami memuliakan anak yatim dan mengajak memberi makan orang miskin..

Tuesday, April 26, 2016

My Q Map Training Balikpapan



Awalnya aku tertarik mengikuti pelatihan ini setelah beberapa kali mendengar iklannya di radio IDC FM. Diajarkan teknik cepat menghafal Al-Qur’an 1 juz/bulan, dapat menghafal secara acak, mundur. Wow! Menggiurkan sekali tawarannya, secara 25 tahunku berlalu tanpa khatam hafalan juz 30. Akhirnya aku bulatkan niat untuk ikut pelatihan ini, investasi 800 rb rupiah untuk 2 hari (seharusnya pelatihan 3 hari 975 ribu, namun jumat tidak memungkinkan hadir karena pekerjaan) insyaAllah sebanding dengan manfaatnya (sedikit merasa bersalah kalau merasa mahal, secara pelatihan kedokteran pun standar 2-3 hari di kisaran 2-3.5 juta, cukup nyekek dompet!).
 
Dari investasi ini kita dapat full day training, jam 08-17, materi tentang 10 rahasia menghafal al-Qur’an, sesi training menghafal cepat 2 surat pilihan (at Takwir dan al Qiyamah), buku my Q map (my Quran map) juz 30. Panitia dari Islamic Global School juga menyiapkan berbagai doorprice , untuk penjawab soal, pemenang kuis, serta pendaftar awal. Oiya, informasi tak kalah penting, training diisi oleh bu Hj. Dhini Widyawati, MNLP ,CH., CHt. CI - Master of Practitioner of NLP, Mind Mapping - Fonder and Master Trainer My Q-Map dan ustadz Ambya Abu Fathin , Author, Master Trainer, Director of Metode Al-Bana

 

Sabtu pagi jam 08.00 aku berangkat ke hotel Zurich dan mengambil tempat duduk paling depan, biar malu sendiri kalau sampai mengantuk. Materi tentang 10 rahasia menghafal al-Qur’an dilanjutkan poin ke 7-10, sedang poin 1-6 sudah diberikan sehari yang lalu. Apa saja poinnya? Hmm, boleh dibocorin ga ya? Hehe. InsyaAllah untuk kebaikan ga pa ya?

Yang paling pertama adalah tujuan. Tanyakan pada diri sendiri : Apa tujuan menghafal al-Qur’an? Luruskan niat sejak awal. Yang kedua adalah makna. Akan jauh lebih mudah menghafal sesuatu yang kita paham, oleh karena itu awali hafalan al-Qur’an dengan mengetahui arti/maknanya terlebih dahulu. Selanjutnya adalah hubungan, atau cantolan hafalan. Kita perlu menggunakan/menstimulasi banyak indra kita, mengikat hafalan dengan gambar, menulis kata kunci, mengeraskan suara ketika menghafal. Rahasia lainnya? Boleh ditanya lebih lanjut ke trainer ^^ (atau ke penulis, dengan senang hati berbagi)

Yang berbeda dengan pelatihan lainnya, kita mendapatkan visualisasi dari surat yang kita hafal, saat hafalan surat at-Takwir kita diperlihatkan video tentang gambaran meteor menabrak bumi, membuat gunung terlepas dan seakan berjalan, laut mendidih dan kering. Terasa sangat nyata, jadi membayangkan bagaimana reaksi sahabat saat mendengar Rasulullah membacakan ayat ini, pasti terguncang dan takut akan gambaran Kiamat ini. Visualisasi, gambar kunci, kata kunci, suara keras, semua akan saling mendukung untuk menguatkan hafalan

Hari kedua lebih menguras emosi, diawali dengan saling mendoakan teman yang ada di ruang tersebut, “Semoga dimudahkan menjadi penghafal Qur’an, dan dapat menshalihkan keluarga. Semoga kita dikumpulkan di syurga nanti, dan cari aku ya ketika tak ada, selamatkan dari neraka menuju syurga..” Tetesan air mata pun tak bisa dibendung, bahkan oleh penulis yang apatis dan susah mengungkapkan emosi ini. Setelahnya dilanjutkan sedikit materi tentang cara mengontrol emosi, menyetel suasana hati ketika akan menghafal. Training hafalan surat yang kedua yakni al Qiyamah dimulai setelah itu.

Sesi ini tidak aku ikuti karena diminta untuk memberi testimoni tentang training ini di acara talkshow yang disiarkan radio IDC FM masjid Istiqomah. Satu kata dari bu Dhini yang aku bagikan pada pendengar, yang juga merupakan pukulan keras bagiku,”Ujian terberat bagi penghafal qur’an ini adalah berhenti menghafal karena takut diuji.” Ya, bahkan sebelum menjadi penghafal pun perasaan takut diuji itu sudah muncul. Oleh karena itu, perlu sekali setelah pelatihan, ada komunitas yang bisa saling menguatkan.

Sedikit cerita dari bu Dhini, beliau mulai mengembangkan my Q map dalam setahun terakhir dan berhasil menyelesaikan 6-7 juz, kemudian proses itu terkendala. Mata kiri beliau, mengalami ablatio retina (retina terlepas dari perlekatannya di bola mata disebabkan—salah satunya—minus tinggi) dan telah dioperasi 3 kali. Itulah sedikit ujian yang beliau ceritakan, dengan satu energi penyemangat,”Ya Allah, kalau memang ini yang perlu dijalani untuk menjadi ahlul Qur’an dan menjadi keluargamu di dunia, saya ikhlas.” MasyaAllah..

Sekarang di rumah beliau, ada pondok tahfidz dimana bermukim 15 orang penghafal al-Qur’an dan lebih dari 100 yang nonmukim. Beliau juga menerima permintaan training di berbagai wilayah di Indonesia, murni untuk jariyah, biaya yang dichargekan pada peserta adalah untuk kepentingan akomodasi trainer dan cetak buku. Bagaimana dengan operasional pondok? InsyaAllah semua ada jalannya, Allah menitipkan 15 penghafal al-Qur’an, maka Allah pula lah yang menjaga dan menjamin rezeki mereka. Begitulah keyakinan orang yang dalam dadanya telah tercelup al-Qur’an.

Di pelatihan ini, aku dapat satu keluarga yang ikut, mulai dari ayah dan 2 anaknya (wow). Membayangkan tidak sedikit yang perlu dikeluarkan, tapi mereka pasti yakin akan ganti yang lebih baik dari Allah. Ada pula mba Amelia dari Bontang, teman sebangku-ku hari Sabtu. Saat kutanya,”Mba jauh-jauh dari Bontang demi pelatihan ini? Nginap hotel? Biaya travel? ” dengan entengnya ia menjawab,”Daripada pelatihan di Jawa?” Wah, masya Allah para pemburu ilmu Allah ini, menciut aku dihadapan mereka.

Satu doa terakhirku, setelah mengikuti pelatihan dan setelah menulis artikel ini,”ya Allah, dekatkan aku dengan orang-orang shalih ini, walaupun diri belum menjadi sebaik mereka, minimal cipratan ridho-Mu terhadap mereka dapat kucicipi.”

Wednesday, March 30, 2016

Program Favorit di NatGeo

National Geographic telah menjadi salah satu channel tv farovitku yang paling banyak memiliki A program. Apa itu A program? Sebutanku sendiri untuk program tv yang paling aku tunggu untuk dilihat, dan aku cari siaran ulangnya dalam minggu itu kalau aku ga berhasil nonton episode awal.

Dan sekarang, dengan senang hati aku bagi A program itu, semoga lain kesempatan dapat aku bagikan detail acaranya.

1. Brain Games
Acara yang dipandu Jason Silva ini hampir selalu membuatku tercegang dengan games-gamesnya yang memutar otak, dan membuat sadar betapa hebatnya otak kita, serta betapa kita (bisa ditipu) otak kita. Betapa otak begitu sempurna penciptaannya sehingga menjadi reseptor segala macam bahasa saat kita kecil, begitu 'elastis' sehingga kita mudah beradaptasi terhadap hal baru, begitu 'nakal' sampai bisa membuat asumsi terhadap seseorang hanya dalam beberapa detik dan terkadang hal tersebut tidak benar. Wajib tonton untuk tahu betapa kerennya salah satu ciptaan Allah, yaitu otak manusia

2. Air Crash Investigation
Ini adalah reka ulang kecelakan pesawat sekaligus investigasinya. Yang paling membuatku kagum adalah investigasi rumit yang akhirnya membuahkan kesimpulan yang bermanfaat. Kenapa bermanfaat? Karena pasti ada sesuatu yang baru yang direkomendasikan agar tidak terjadi kesalahan berulang. Aku bahkan mencatat poin penting selama menonton. Dari 12 episode season 1, episode favoritku adalah episode akhir, saat kru kokpit berhasil 'mengendalikan' pesawat yang mengalami kebakaran mesin dan mendaratkannya dengan selamat. Ini membesarkan hatiku bahwa banyak pilot handal yang dengan dedikasi tinggi (dan juga ilmu) menerbangkan penumpang sepenuh hati

3. 24 Hours in A & E
Ini tentang penanganan pasien di ruang emergensi rumah sakit King's College Inggris. Mungkin karena profesiku sebagai tenaga medis yang menjadikanku ini acara favorit. Yang aku kagumi adalah bagaimana tenaga medis disana menangani pasien dengan ramah, edukatif, serta kerjasama antar tenaga medis yang kompak. Mereka akan menjelaskan di awal prosedur penanganan dengan sejelas-jelasnya, tidak ragu memberitahu ketika mereka memang belum mengetahui diagnosa pasien, serta penanganan proses rujukan yang oke, tanpa ada saling menyalahkan antara petugas yang merujuk dan petugas penerima rujukan.

Untuk saat ini, itu list acara wajib tonton versiku. Ada juga program B, akan kutonton saat ada kesempatan, tapi bukan sesuatu yang akan kutunggu-tunggu. Contohnya, Natgeo Origin, Ultimate Survival Alaska. Semoga lain kali dapat juga kubagi.

Thursday, February 4, 2016

Kemana Santun itu...



Dua kali dalam satu minggu terakhir saya merujuk pasien dari klinik ke rumah sakit, oleh perawat yang sama juga. Pasien pertama, bapak A usia awal 50 tahun dengan penyakit jantung koroner, dan yang kedua bapak B 40 tahun dengan dugaan Dengue Fever dan Dehidrasi.

Pak A kami rujuk salah satu rumah sakit pemerintah yang melayani BPJS. Saya sangu-kan rujukan resmi ke UGD. Sampai disana, langsung disemprot dengan pertanyaan (atau penghakiman ya), “Koq ga telp dulu? Tau dari mana ini CAD? Mana EKG-nya? Doktermu itu! Memang ini rumah sakit mbah-mu apa?”  Saya yang mendengar penuturan perawat yang menceritakan semprotan itu langsung melengos. Yang membeber pertanyaan itu petugas dengan pangkat, tidak berani mas perawat untuk menjawab selain iya, nggeh. 

Tau dari mana CAD, ga ada EKG nya! Doktermu itu.. à tolong, tolong konfirmasi dan lihat status pasien dulu sebelum itu. Bapak itu sudah 2x masuk rumah sakit dengan keluhan yang sama, bapak itu pasien rutin penerima obat ISDN, Bisoprolol, Amlodipin, Clopidogrel. Hari itu adalah hari rutinnya kontrol ke poli penyakit dalam, rujukan poli pun telah saya beri, namun pagi setelah konsumsi ISDN 2x, masih terasa nyeri dada. Mana tega kami biarkan ia ke ugd atau poli sendiri tanpa ambulance dan oksigen? EKG mana? Jangan dikira saat saya omongkan klinik langsung terbayang peralatan standar seperti itu, ini klinik yang untuk menjangkaunya butuh speed 20 menit dari pelabuhan, dan 7 menit berkendara mobil, belum ada EKG, monitor dan lainnya. 

Koq ga telp dulu? Iya saya mengaku salah tidak menelpon terlebih dahulu. Tapi cobalah evaluasi juga, bagaimana perlakuan saat menjawab telpon. Saya pribadi (bukan perawat) pernah 3x menjadi anak baik dan mengkonfirmasi rujukan. Apa yang saya dapat? Kamar penuh. Ya, berprasangka baik bahwa memang kamar penuh. Satu kejadian terakhir tidak membuat saya bisa berprasangka baik lagi.
Pasien anak 16 tahun, pagi baru keluar rumah sakit, dirawat spesialis saraf dan penyakit dalam karena nyeri kepala hebat dan alergi obat. Sorenya saat ia minum obat, kembali alergi dan tidak dapat menelan, injeksi DD telah dilakukan, kami sarankan untuk observasi di RS malam itu. Saya telp rumah sakit itu. Tanpa ada jeda “saya tanya dulu ya kamarnya” pertugas itu menjawab “penuh”, dan saat itu berkebetulan keluarga saya ada yang dirawat. Pagi saya tanya,”Dari sore kemarin sampai pagi ini ada berapa bed yang kosong? Dua. Dua bed.”

“Walaupun saya jelaskan si pasien itu pasien rutin RS itu, dan menawarkan solusi apa tidak bisa diobservasi dulu dan dikonsulkan ke spesialis yang sebelumnya merawat kemudian ditunggu follow up nya? Dia menjawab,”Di sini ga bisa observasi mba, kalau kamar penuh ya mau gimana, kan jadinya ga bisa dirawat. Dirujuk RS lain dulu, baru pagi boleh konfirmasi ke sini lagi.”

Ia menawarkan solusi lain lagi, dicoba ke THT dulu, kan penyakitnya ga bisa menelan ya? Langsung saya tepis,”Bukan pak, saya takut edema laring, karena alergi obat-nya, suara paru masih baik, tapi selama ia belum bisa menelan, saya tidak berani pulangkan.”

Kembali ke pasien awal. “Memang ini rumah sakit mbah-mu apa?” Hmm, jelas bukan, juga bukan rumah sakit mbah anda (klo saya boleh menambahkan). Kami paham sebaiknya merujuk dengan prosedural, telpon dulu, beritahu dulu, tapi setiap kami menelpon, tak ada tanggapan,”baik, silahkan rujuk kesini.” Salahkah kami kalau kami “kapok” menelpon? Jika jawabannya salah. Saya ganti pertanyaan,”Memang sebegitu pantas kah kami mendapat perlakuan seperti itu?” Disajikan welcome drink berupa semprotan pertanyaan. 

Wahai diri (saya juga termasuk didalamnya). Tolong-lah pagari lisan, jika ia tak dapat berkata santun, tolong, tolong sekali lagi, janganlah menambah sakit. Tak bisakah anda bertanya baik-baik, tanpa nada menghakimi? Tidak perlu teriak, kami bisa mendengar tanpa alat bantu. Volume suara itu tidak akan menyelesaikan masalah.

***

“Kapok” ke rumah sakit pertama, perawat merujuk pasien kedua ke RS D, termasuk rumah sakit pemerintah yang dikenal lebih santun. Pasien demam 3 hari, badan lemas, mual. Akral dingin, Tensi 90/60 mmHg, rumple leed antara positif dan tidak. Curiga DF, dan kami tidak bisa memastikan karena tidak bisa pemeriksaan DL disini. Sampai disana, diperiksa dan hasil pemeriksaan baik. Pasien dipulangkan, perawat negosiasi, dan keluar kata-kata dari dokter,”Kalau mau nginep gratis ya bukan di RS.”

Saya tidak akan bahas indikasi pasien dirawat atau tidak ada dipulangkan, yang saya sesali adalah kata sejawat saya. Kemana santun itu? Bukankah kami dokter diajari etika sejak semester awal, dan kata Hipocrates masih terngiang, to cure seldom, to comfort always. “Pak, bapak ini tidak perlu rawat inap, boleh dibawa pulang, kalau lemas, besok bisa kembali ke poli.” Ah, mungkin perawat saya yang ngotot, atau mungkin saat itu pasien UGD ramai, atau mungkin yang lainnya. Tapi saya merindukan kata santun itu.

***

Kali ini dari mba tenaga kesehatan di tempat saya. Ibunya dugaan kanker payudara, puting sudah menjorok ke dalam, di sekeliling ada struktur keras seperti jeruk purut, keluhan nyeri pinggang dan demam juga sudah dirasakan. Sudah lama mba itu tahu, sudah berulang kali bujuk rayu dilayangkan tapi si ibu enggan. Mungkin salah satu karena khawatir biaya pengobatakan akan membebani si anak, ibu itu bilang,”sudah, ibu ga usah dipikir, kamu mikir ani dan ifa aja” (cucunya). Sampai suatu hari si ibu drop, demam dan lemas, akhirnya dengan buruk rayu terakhir dibawalah ke UGD RS. Dokter menjelaskan tidak ada indikasi rawat inap, dan besok harus berobat ke poli Onkologi. Salah satu pegawai kesehatan disana, membeber dengan pertanyaan

“Koq baru dibawa sekarang? Sudah berobat?” Saat dijawab, sudah, saya berobat herbal. “Gimana berobat herbal? Sembuh?!” mengajukan pertanyaan yang retoris dengan nada tidak normal.
Sedih saya dengar mba tersebut cerita. Keberanian si ibu untuk mau diobati dan keberhasilan si anak untuk membujuk rayu ibunya berobat, disambut dengan pertanyaan “khas” dengan nada yang “khas” pula.

Kompleks, tidak semudah itu kita dapat menyimpulkan keadaan pasien. Banyak hal yang membuat ia baru berobat sekarang, banyak yang membuat ia takut berobat (yang mungkin salah satunya bertemu petugas seperti diatas). Sekali lagi, jika tidak bisa membantu, cukup, jangan ditambahi dengan menabur garam di luka. Ibu itu sudah susah, jangan menambah susah. Hibur ia dengan optimisme,” Sudah benar ibu ke rumah sakit, sekarang tidak perlu pakai herbal-nya lagi ya. Besok ke sini lagi. Penyakit-nya bisa dipastikan, dan kami pasti membantu semaksimal mungkin. Ibu bantu dengan berusaha juga dan berdoa.” Adem kan, dingin, sejuk perkataannya. Pastinya membuat ibu tidak takut untuk kembali. Sedang pertanyaan,”Koq baru berobat sekarang? Memang sembuh pakai herbal?” tidak membantu sama sekali, justru membuat ‘trauma’ baru. (karena ini juga diucapkan dengan nada tidak normal, seperti kita mengatakan,”tuh kan, apa saya bilang”)

Mungkin budaya nakut-nakuti dan marah-marahi sudah sejak kecil kita terima dan akhirnya secara tidak sadar merasuk ke perilaku dan alam bawah sadar,”Kalau ga dimarahi pasti nakal.” Bukan budaya memberikan optimisme. Nilai jelek langsung dimarahi,”Ga belajar ya? Gimana klo nilai jelek ga naik kelas?”

Sudahlah, tidak perlu berpanjang lebar. Hal diatas tentu dilakukan oleh oknum, tidak semua seperti itu. Hanya perawat saya yang ‘beruntung’ menemui hal tersebut berturut-turut dalam seminggu ini. Semoga tidak menjadi ‘trauma’, trauma bagi pasien, trauma bagi perawat yang merujuk, dan lainnya. Dan sebaiknya kita (dan saya) mencoba mencari dan berteman dengan santun itu. Santun dan memilih diam, ketika kita tidak dapat berkata baik. Santun dan menahan emosi, jikalau tidak dapat membantu, tidaklah kemudian menambah luka.

Saturday, January 9, 2016

Terus Berjalan..

Andai setiap mengambil keputusan semudah saat aku memilih Toshiba Green ini. Saat mengikuti kajian singkat di Bangil saat mengikuti program internsip, salah satu pembicara menggunakan notebook Toshiba warna hijau yang sangat eye catching. Pertama kali melihat langsung jatuh cinta, dan merasa 'klik' , gumaman spontan dalam hati,"aku mau itu."

Dan bertepatan saat laptopku rusak, aku langsung hunting notebook, dan ditawari berbagai macam merk dan warna dengan berbagai spesifikasinya. Ada ac*r keluaran terbaru, ada juga merk lain dengan harga yang bersaing, dengan spesifikasi yang lebih dari toshiba ini. Apa daya, tambatan hati sejak awal sudah tertuju pada si Hijau ini. Dan inilah yang menemaniku sampai sekarang.

Keputusan lain tak semudah ini. Jelas. Sekolah lagi? Sudah beberapa kali mengganti niat jurusan, sampai sekarang belum terputuskan. Menikah? Bukan soal perlombaan siapa cepat dia menang, namun soal ikhtiar dan tawakal.

Persimpangan jalan jelas menimbulkan kegelisahan. Gelisah tidak berani memutuskan. Gelisah apa keputusan yang diambil tepat. Takut apabila tidak sesuai rencana dan salah jalan apakah dapat diperbaiki. 

Tujuan akhir sudah diputuskan, jalan menuju tujuan itu begitu panjang, banyak liku yang memberikan 1000 pilihan. Tiap pilihan tak ada salah dan benar. Satu hal yang pasti harus dilakukan, memantaskan diri agar senantiasa dibimbing olehNya.

Balikpapan,  09 Januari 2016





#kembali menulis dengan Green Toshi kesayangan

Friday, November 27, 2015

Materi Tahsin, Tamhidi (part 4)



Qalqalah
Ada 5 huruf ba, ja, da, tho, qa (jembatan kancilnya L baju di toko). Apabila salah satu lima huruf ini bersukun asli atau waqaf maka dibaca qalqalah (memantulkan suara)
Sukun : mendekatkan 2 perangkat lisan. Qalqalah : menjauhkan setelah sukun.
Qalqalah terbagi 2, sugra (kecil) : di tengah bacaan dan kubra (besar) : di akhir bacaan.
Qalqalah hanya pada 5 huruf, hati-hati, jangan meng-qalqalah-kan huruf lain, yang sering di’qalqalah’kan adalah gha, dza, ja, dhlo, la



Hamzah Washol
Adalah hamzah yang diatasnya ada huruf shod kecil. Di baca :
Dhommah ketika huruf ke-3nya berharakat dhommah
Kasrah ketika huruf ke-3nya berharakat fathah/kasrah
Fathah hanya pada Al (hamzah wahsol diikuti lam sukun)


Nun Iwadh
Adalah nun pengganti tanwin. Bila tanwin bertemu hamzah washal, maka tanwin diganti nun iwadh.


Huruf di Awwal Surat
Alif dibaca biasa, huruf tanpa tanda baca dibaca 2 harakat, huruf dengan tanda bendera dibaca 6 harakat. Lihat contoh gambar


 
Copyright (c) 2010 dellasgarden. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.